Borobudur Writers and Cultural Festival

“Bende Mataram”, Membangun Kuasa Tanding di Wilayah Pinggir. Sebuah Gejala Umum dalam Cerita Silat?

G Budi Subanar, SJ
Staf Pengajar Magister Ilmu Religi dan Budaya
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

1. Beberapa Catatan Pembuka:

A. Saya akan mulai dengan memperkarakan (memberi catatan) sub judul tema pertemuan ini “Imajinasi dalam ruang kosong sejarah Nusantara”. Frase ini mengundang diskusi. Pertama, perkara imajinasi. Imajinasi tidak bisa menempatkan diri di dalam ruang kosong, tanpa batasan tempat dan waktu. Ada faktisitas, keterbatasan dari manusia yang terlibat. Pihak-pihak yang terlibat dapat terkait dengan (penulis, tokoh yang ditampilkan dalam karya, atau pembaca yang menikmati karya). Ruang lingkup tempat kehidupan dan kurun waktu tertentu dari pihak-pihak yang terlibat merupakan garis penentu dari keterbatasan tersebut.

B. Kedua, sejarah tidak pernah berada atau berlangsung di dalam ruang kosong karena terkait dengan lokasi tempat berlangsungnya, sekaligus terkait dengan kurun waktu peristiwanya. Ada batasan lokasi, dan ada batasan periode waktu. Sebuah kerajaan, suatu wangsa atau dinasti dan penguasanya akan dibatasi pada teritori di mana kraton berada, wilayah kekuasaannya diakui dan beroperasi. Juga periode waktu masa dinasti tersebut berkuasa. Demikian pun sebuah peristiwa dengan tokoh-tokoh yang terlibat di dalam peristiwa khusus, juga dibatasi pada sebuah lokasi sejarahnya dan suatu kurun waktu yang tertentu pula. Di sinilah prinsip historitas berlaku yakni seseorang dibentuk oleh masa lalunya, terlibat dalam situasi aktual yang digumulinya, serta membentuk atau menentukan masa depan selanjutnya. Historisitas tidak berlangsung di dalam ruang kosong sejarah.

C. Demikian pula dengan sastra. Kita ingat diskusi ramai tahun 80-90’an tentang sastra kontekstual, sastra yang terlibat. Ada keterkaitan dengan issu-issu yang diangkat sebagai perhatiannya, suatu usaha pembatasan konteks. Artinya juga terkait dengan pembatasan (ruang dan waktu) tempat dan kurun waktu di mana issu yang diangkat itu berlangsung.

D. Pembicaraan kita tidak bisa ditempatkan pada imajinasi yang berada pada ruang kosong sejarah (Nusantara). Khasanah cerita silat Nusantara memiliki sedemikian banyak kekayaan dari berbagai pengarang dan buku-bukunya.Dari generasi yang tua sampai yang muda. SH Mintarja dengan Api di Bukit Menoreh dan serial lainnya; Herman Pratikto dengan Bende Mataram dan serialnya yang lain; Arswendo Atmowiloto dengan Senopati Pamungkas; Seno Gumira Ajidarma dengan Nagabumi, dan lain-lain. Masing-masing menempatkan kisahnya dengan kurun waktu tertentu, dengan penguasa kerajaan yang tertentu pula. Masing-masing tokohnya ditempatkan pada lingkup sejarah kekuasaan penguasa kerajaan tertentu. Di dalam setting sejarah tersebut, perkara kekuasaan dieksplorasi dan dinarasikan di dalam cerita silat dengan kisah tokoh utamanya. Pokok inilah yang dalam judul dikemukakan, membangun kuasa tanding di wilayah pinggir

Sebagaimana saya tulis dalam judul, pilihan saya adalah Bende Mataram karya Herman Pratikta. Pilihan ini ada pertimbangannya. Antara lain, terkait dengan karya lamanya yang dicetak ulang, Rama Dewa (Penerbit Kompas 2011).Dari Bende Mataram, saya mencoba mencari konsep ksatria yang ada di dalam karya tersebut. Akan menjadi menarik untuk memperbandingkannya, dari dua tradisi berbeda, satu dari babad Mataram, satu dari babad Ramayana, ditulis oleh satu pengarang. Mungkin setelah pertemuan ini, perbandingan bisa dibuat tentang konsep ksatria dari kedua karya tersebut. Kali ini fokus pada Bende Mataram, supaya tidak terlalu meluas.

2. Bagaimana Bende Mataram membangun logika dalam kisah-kisahnya?

A. Serial “Bende Mataram” dibagi dalam 49 bagian .Dimulai dengan mengetengahkan kisah sebuah “Rombongan Penari yang Aneh” (sebagaimana ditulis pada bagian pertama) yang membawa Bende Mataram dari Cirebon menuju Banyumas, tetapi mengalami perebutan di tengah perjalanan. Penamaan sub judul dalam bagian-bagian Bende Mataram didasarkan pada nama tokoh tertentu yang diketengahkan: Sangaji, Wirapati, Sonny Si Gadis Indo, Orang Berkepala Gedhe, Si Pemuda Kumal, Raden Sanjaya, Titisari, dan seterusnya. Dan peristiwa yang terjadi di sekitar para tokoh tersebut: Salah Paham, Pengejaran, Satu Pertempuran tak terduga, Masa Pertandingan, dan seterusnya. Judul bagian-bagian yang ada dalam Bende Mataram memperlihatkan alur yang dibangun di dalam keseluruhan cerita. Tokoh-tokoh yang dikemukakan saling bertemu dalam berbagai peristiwa dengan agenda mereka masing-masing. Kisah-kisah yang ada mempertemukan hubungan-hubungan yang saling mendukung atau bertentangan sampai akhirnya menemukan situasi terakhir dari kisah-kisah tersebut.

B. “Bende Mataram” disebut membangun kuasa tanding. Sudah sejak awal Bende Mataram menyebut tentang kekuasaan Sultan Hamengku Buwono II. Kalimat-kalimat pertamanya menyebutkan “Kala itu permulaan musim panen tahun 1792. Sultan Hamengku Buwono II baru beberapa hari naik tahta kerajaan Yogyakarta.”Awal pengembaraan Wirapati, kisah keluarga Wayan Suage dan Made Tantra yang menjadi tokoh-tokoh dalam cerita ditempatkan dalam kurun waktu saat hari-hari setelah penobatan Sultan Hamengku Buwono II tersebut. Tidak semua cerita silat, sejak awal langsung menempatkan kisahnya dalam sejarah (besar) kekuasaan.

Kendati pun sejarah penguasa dicantumkan, tonggak tersebut (hanya) dijadikan sebagai bingkai besar. Menjadi setting latar belakang, kerangka di mana kisah cerita silat tersebut ditempatkan. Dengan mengikuti kisahnya, akan ditemukan untuk apa kisah tokoh-tokohnya dilekatkan pada sejarah penguasa.

Di dalam pembahasan sejarah (kekuasaan), sejarah penguasa itulah yang menjadi sorotan, menjadi obyek kajiannya. Bukti-bukti situs, artefak, dan manuskrip-manuskrip yang ada senantiasa mengacu pada sejarah (besar) penguasa. Di mana massa rakyat memiliki tempat di sana? Menjadi sejarah tak bernama. Hanya merupakan sejarah bisu. Dalam hal ini, cerita silat justru menampilkan kisah tokoh-tokoh yang tidak ada di dalam sejarah (besar) kekuasaan tersebut.Di sinilah kuasa tandingan ditempatkan. Dalam sejarah (besar) kekuasaan, kisah massa rakyat sama sekali tidak disebut. Mereka ada di wilayah pinggir. Yang ada di pinggiran tidak diperlihatkan. Di sinilah kekhasannya, cerita silat menghadirkan kisah tokoh-tokohnya berangkat dari pinggiran sejarah (besar) kekuasaan. Sejarah (besar) kekuasaan menjadi setting, bingkai atau latar belakang sejarahnya.

C. Yang menjadi tokoh utama dalam “Bende Mataram” adalah Sangaji. Bersama Sanjaya yang berusia sebaya, mereka adalah dua anak dari mantan prajurit Bali yang lari ke Jawa dan menikah dengan perempuan Jawa. Kedua mantan prajurit Bali menyingkir dari pusat kekuasaan yang dilibati sebelumnya. Mereka membangun hidup baru. Keluar dari pusaran kekuasaan di Bali, hidup di sebuah desa di Jawa, menjadi petani , menikah dengan perempuan setempat, dan beranak pinak.

Nama desa yang mereka tinggali adalah Karangtinalang. Penamaan, pemilihan nama karang (batu) mengingatkan sesuatu kaitan dengan dunia pewayangan. Bandingkan dengan Karang Tumaritis, Karang Kadempelan, tempat tinggal Lurah Semar dan anak-anaknya.
Neng karang dempel leledang
Kyai lurah Semar sapranakane
Miyat kebon: kebon tegalan aleren
Sami nggunduh taru pala
Suka sinden sasendonan
Sarwyan joged genti-genti

Itulah gambaran nama desa dengan nama ‘karang’dalam dunia pewayangan. Sebutan karang menunjuk daerah yang memiliki ciri sebagai desa atau tempat yang berbatu-batu.Cedak watu adoh ratu. Orang yang tinggal di daerah bebatuan atau di pegunungan, sudah barang tentu dia, mereka, orang-orang desa dan orang-orang gunung itu jauh dari penguasa. Jauh secara geografis. Jauh secara politis. Jauh secara sosial. Rakyat ini tidak mampu menjangkau penguasanya.

Dengan pengisahan warga di Karangtinalang, kisahnya berganti orientasi kekuasaan. Kendati pun, mereka ikut merayakan penobatan Sultan Hamengku Buwono II. Dengan cara ini, kisah ditempatkan berangkat dari lingkaran pinggir sejarah kekuasaan Mataram, pasca Perjanjian Giyanti. Penempatan dalam pusaran sejarah Mataram mulai dibangun dengan hadirnya Bende Mataram yang dihadiahkan oleh Hajar Karangpandan kepada orang tua Sangaji (Made Tantre dan Rukmini) dan Sanjaya (Wayan Suage dan Sapartinah). Peristiwa awal tersebut menimbulkan tragedi. Ini menjadi titik berangkat kisah demi kisah yang dijalin.Lewat Bende Mataram dan mitosnya, dibangun kisah Sangaji dan orang-orang sekitarnya. Kisah perebutan Bende Mataram menjadi jalan masuk Sangaji ke tengah pusaran kisah.

D. Para ksatria yang dijumpai Sangaji. Pengalaman Sangaji di Jakarta, dia mengalami tiga perjumpaan dengan tokoh yang memberi warna pada hidupnya. Mereka adalah para ksatria dengan latar belakangnya masing-masing. Pertama, Wilhem Erbefled seorang perwira kompeni yang pernah melakukan pemberontakan. Dia berada didalam pusaran sejarah kekuasaan kompeni. Hidup dan meniti karir dalam lingkungan kekuasaan kompeni tapi sekaligus memiliki (sedikit) keberpihakan kepada pribumi (Sangaji) karena pernah berhutang budi padanya. Gambaran ideal dalam ksatria lingkungan kompeni (budaya Eropa) adalah penguasaan senjata pedang, dan senapan. Sangaji diperkenalkan dan dilatih dalam menguasai bidang tersebut. Seorang ksatria idealnya perlu dilengkapi dengan mengendarai kuda, dan memiliki gadis pujaan hati. (Hal ini dapat diacukan pada kisah Don Kisot yang berusaha mewujudkan diri sebagai ksatria yang dilengkapi senjata sebagai perlengkapan perang, kuda untuk sarana penjelajahan, dan gadis idaman yang akan menjadi pasangan hidupnya. ) Gadis idaman yang akan melengkapi hidup seorang ksatria mengalami kontestasi antara gadis indo (Sonny) dan gadis pribumi (Titisari) yang kepadanya Sangaji menaruh hati. Mental bangsa terjajah memiliki kecenderungan untuk menundukkan bangsa penjajahnya dengan cara memacari seorang gadis Indo. Bagaimana Sangaji mempertimbangkan berbagai faktor sampai kepada pilihannya?

Kedua, Sangaji menjadi murid Wirapati dan Jaga Saradenta sebagai ksatria dari pedalaman. Kedua orang ini berada di wilayah pinggir kekuasaan lokal. Mereka adalah murid dari para pelaku yang pernah terlibat dalam peperangan menjelang

Perjanjian Giyanti, artinya pernah ikut berperang dalam perebutan kekuasaan sekaligus melawan kaum kolonial. Guru mereka menyingkir dari lingkaran kekuasaan dan masuk ke wilayah pedalaman. Kepada Sangaji, kedua gurunya melatihkan ilmu beladiri yang dilengkapi dengan ketrampilan fisik sebagai sarana beladiri. Ilmu tersebut diberikan kepada Sangaji dengan ambisi untuk memenuhi janji ksatria yang perlu dipersiapkan selama 12 tahun. Sangaji diajak untuk berhadapan dengan Hajar Karangpandan guna mewujudkan sumpah ksatria para gurunya. Bukan dalam sebuah peperangan melawan kaum kolonial.

Ketiga, perjumpaan dengan Ki Tunjung Biru sebagai personifikasi ksatria dari masyarakat pantai. Kepada Sangaji, Ki Tunjung Biru memperkenalkan kekebalan tubuh dengan menggunakan ramuan-ramuan dan ilmu samadi. Samadi yang dikenal dan dipraktekkan itu diperkaya oleh Gagak Seta yang memberi ilmu pada Sangaji tidak sebatas untuk mempertahankan diri, tapi sekaligus untuk menyerang dan menaklukkan. Samadi sebagai ilmu semula (hanya) mencakup dunia batin, dunia rohani. Rumusannya 12 kata, “Tenangkan pikiran— lupakan perasaan—kosongkan tubuhmu—salurkan hawa—matikan hati—hidupkan semangat.” Kemudian ditambah ilmu pernafasan memberi pengaruh kemampuan fisik. Dengan demikian yang semula lebih merupakan “Aji Pameleng” (ilmu samadi murni) lalu menjadi kesaktian.

E. Pengalaman Sangaji sebagai pembentukan sekaligus wilayah perebutan pengaruh. Terkait dengan pembentukan. Sebelum mengalami perjumpaan dengan berbagai tokoh, Sangaji dididik oleh ibunya. Karenanya, tatkala ditanya siapa yang melarang, Sangaji menjawab “Ibuku”. Masa berikutnya, Sangaji mengalami pembentukan atau pengajaran dari Willem Erbefeld, Wirapati dan Jaga Saradenta, Ki Tunjung Biru dan Gagak Seta. Dengan cara masing-masing, berbagai pihak tersebut mengajarkan pengaruhnya kepada Sangaji. Satu kritik diberikan oleh Ki Tunjung Biru terhadap pengajaran Wirapati dan Jaga Saradenta adalah pengajarannya dilakukan dengan ambisi, tanpa mempertimbangkan tingkat usia dan kemampuan menyerap dari Sangaji sebagai anak didiknya. Kebanyakan guru mengajar muridnya dengan melatihnya melalui praktek. Pada saat tertentu, ada yang menampakkan otoritas dalam mengajar, “Dengarkan!” atau “Perhatikan!”. Para pengajar bangga, mengagumi dan memuji perkembangan kemampuan anak didiknya. Pengalaman pembentukan yang dialami Sangaji juga dialami oleh tokoh-tokoh usia sebaya: Sanjaya, Titisari, dan Nuraini. Masing-masing dengan penggambaran kisahnya, memperlihatkan persamaan dan kontras dengan pengalaman pembentukan Sangaji.
Terkait dengan perebutan pengaruh dihadirkan dalam berbagai tokoh. Dalam kemampuan fisik, dalam praktek samadi, dalam menghadapi berbagai pilihan Sangaji memiliki sejumlah guru. Tapi Sangaji juga berhadapan dengan berbagai sikap orang dalam berhadapan dengan kekuasaan. Narasi yang ada menempatkan Sangaji berproses dan mengolah diri, sampai pada akhir kisah dia memilih jalan hidupnya.
3. Beberapa Catatan Akhir

A. Bende Mataram mengetengahkan periode Hamengku Buwono II untuk menampilkan sejarah rakyat yang selama ini merupakan sejarah diam menjadi hidup melalui cerita silat tersebut. Setelah terbitnya Bende Mataram, ada beberapa terbitan dari sejarawan yang mendalami masa-masa yang berimpitan dengan periode tersebut dalam sejarah (besar) kekuasaan. Sejarah (besar) Pangeran Mangkubumi sebagai Hamengku Buwono I didalami oleh M.C. Ricklef. Sejarah (besar) P. Diponegoro yang berada dalam (periode) kekuasaan Hamengku Buwono II dan III didalami oleh Peter Carey . Dengan demikian,Bende Mataram dengan kisah Sangaji, menjadi kisah rakyat yang bercerita dari sejarah diam di antara periode sejarah (besar) yang telah diteliti, ditulis dan diterbitkan.

B. Bende Mataram juga dapat menjadi ruang belajar bagi para sejarawan. Ada suatu pandangan dari orang yang bergulat di bidang sejarah terkait dengan novel atau cerita sejarah . Antara lain dinyatakan: a) yang bergulat pada dunia tulis menulis sejarah, karya sastra tidak hanya dipahami sebagai “yang semata-mata menyajikan alur cerita serba fiktif”, melainkan juga memberikan banyak informasi faktual tentang dimensi-dimensi kehidupan masyarakat; b) dari balik suatu cerita fiksi, sejarawan sering memiliki peluang emas untuk melakukan proses dekonstruksi atas kisah sejarah tertentu.Di samping itu, dalam kalangan sejarawan ada usaha menghidupkan fakta lewat fiksi sebagaimana dilakukan oleh kalangan sejarah yang bergulat dengan sejarah Romawi Kuno. Untuk menghidupkan sejarah Pompei, ada peneliti sejarah yang menempatkan diri sebagai budak dari mereka yang terlibat dalam sejarah masa itu. Kisah yang dituliskannya diberi catatan kaki dari hasil penelitian ilmiahnya.

Dalam cerita silat Nusantara, usaha seperti ini dilakukan oleh Seno Gumira Ajidarma. Dalam karyanya Nagabumi, Seno Gumira Ajidarma menuliskan teks yang diambil dari naskah kuno, khususnya dari khasanah Sastra Jawa Kuno.Dia memberikan catatan kaki dari mana teks tersebut diambil. Dengan Naga Bumi, Seno Gumira Ajidarma menghidupkan teks-teks tersebut dengan imajinasinya.

C. Bagaimana dengan sejarah bisu lainnya? Pembabakan sejarah Indonesia secara sederhana dapat dibagi dalam empat (4) periode: Jaman Pra Sejarah, Jaman Sejarah Purba, Jaman Sejarah Madya, Jaman Sejarah Modern . Kendati pun diistilahkan dengan Jaman Sejarah Purba, masa dari awal kedatangan India
sampai runtuhnya Majapahit sangat diwarnai oleh sedermikian banyak peninggalan. Demikian pun peninggalan masa sesudahnya, terentang antara saat kedatangan Islam, awal keruntuhan Majapahit, sampai abad 19. Dalam kajian sejarah, arkeologi dan sastra dari masa tersebut, telah banyak ditulis buku-buku. Dengan semakin banyaknya terbitan, menjadi undangan yang menarik bagi para penulis cerita silat untuk menggunakannya sebagai sumber inspirasi. Sebaliknya, karya penulis cerita akan menambah kekayaan imajinasi yang selama ini tidak terjangkau oleh pihak-pihak yang telah menghasilkan karya akademik tersebut.

Lebih lanjut, karya para penulis dapat menjadi karya tanding dari sisi sejarah diam yang tak terjangkau . Di sinilah, sumbangan karya para penulis akan melengkapi khasanah sastra, sekaligus semakin menghidupkan rasa sejarah, babad, dan hikayat dari mereka yang selama ini tinggal di dalam sejarah dan kisah yang bisu. Seandainya kisah tersebut tidak dihidupkan dengan kekayaan imajinasi dan ketekunan untuk menggali bahan dari berbagai sumber, sejarah kecil tetap akan tinggal tersembunyi dan tidak bersuara. Dan ternyata, kekayaan tersebut telah menjadi nyata dalam berbagai karya yang siap untuk diapresiasi dan dikaji. Secara khusus saya ingin menyebut munculnya genre baru dalam tulisan silat akhir-akhir ini, dalam karya Whanny Darmawan Andai Aku Seorang Pesilat (2012). Karya tersebut menghadirkan silat sebagai laku, pengalaman dan penghayatan hidup sehari-hari sang penulis yang menampilkan diri sebagai saya. Tak ada jarak antara karya dan penghayatan. Karya demikian menjadi satu sastra tanding terhadap cerita silat yang bernada superhero.

***

Diselesaikan 17 Oktober 2012

 
Comments

No comments yet.