Nigel Bullough (63 tahun), adalah sosok yang mengabdikan dirinya untuk meneliti masa silam Nusantara. Latar belakang pendidikannya bukan arkeologi, tetapi ia menghabiskan banyak tahun-tahun dalam hidupnya untuk menelusuri desa-desa dan lokasi-lokasi yang tercantum dalam Nagarakertagama, seraya membayangkan perjalanan Hayam Wuruk dan keanggunan Majapahit. Kemudian kini ia mendata candi-candi yang tertanam di lereng-lereng Gunung Penanggungan.
Begitu cintanya Nigel Bullough terhadap masa silam Nusantara hingga ia mengganti namanya menjadi Hadi Sidomulyo. Atas kecintaan dan dedikasi pria asal Inggris yang sudah menetap di Indonesia sejak 1971 itu terhadap riset-riset Majapahit dan Gunung Penanggungan, kami dari Borobudur Writer and Cultural Festival memustuskan memberi penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award bagi Hadi Sidomulyo.
Hadi pernah menulis buku: Historic East Java: Remains in Stone. Ia juga pernah menulis buku Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca (2007). Menurut Hadi, Nagarakretagama karya Mpu Prapanca memiliki tempat sangat istimewa dalam sejarah Jawa. Kitab ini merupakan buku sejarah yang menjelaskan kehidupan sosial-politik, keagamaan, dan budaya di masa Majapahit. Semua informasi itu ditulis Prapanca setelah mengikuti perjalanan Hayam Wuruk ke sejumlah wilayah kekuasaan Majapahit pada 1359. Perjalanan selama tiga bulan, September-Desember, itu terbentang sepanjang 700 kilometer dari pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan ke arah timur di Blambangan.
Perkenalan Hadi dengan naskah Nagarakretagama berawal pada 1989. Saat itu, ia diajak koleganya bergabung dalam tim ekspedisi yang bertugas menelusuri potensi wisata dan kebudayaan di Jawa Timur. “Waktu itu saya mendapat buku Nagarakretagama terjemahan Slamet Muljana (1953). Menurut saya, itu buku peta pariwisata paling tua di Indonesia. Makanya selalu saya bawa selama perjalanan,” ujarnya seperti pernah dikutip Majalah Tempo.
Dalam Nagarakertagama, Prapanca sedikitnya menyebut 200 nama tempat. Beberapa di antaranya adalah tempat yang panorama alamnya sangat menakjubkan, bahkan menurut Hadi Sidomulyo masih dijadikan obyek wisata hingga sekarang. Banyak peneliti telah mengkaji kitab Nagarakertagama secara tekstual. Tapi belum ada satu peneliti pun yang terjun ke lapangan menapaktilasi tempat-tempat tersebut. Dan itulah yang dilakukan Hadi Sidomulyo. Ia turun ke desa-desa mencari nama desa-desa dan tempat-tempat yang disebut di Nagarakertagama. Sebuah kegilaan yang tidak mungkin dilaksanakan apabila orang tidak memiliki rasa keterpesonaan mendalam terhadap misteri sejarah.
Pada 1998 Hadi memulai ekspedisinya tanpa dukungan sponsor. Tempat-tempat yang pernah disinggahi Hayam Wuruk ia telusuri kembali satu per satu. Misalnya yang tersebut dalam pupuh (syair) 17-39 Nagarakretagama. Rute perjalanan itu dimulai dari Trowulan, ke Pasuruan, Probolinggo, hingga Lumajang. Lalu menyisir pantai selatan dan berbelok ke arah Jember, Bondowoso, Situbondo, dan pulang melalui rute pantai utara. Ada kalanya ia harus naik-turun perbukitan dan menyisir garis pantai yang tidak memiliki akses kendaraan. Hingga ia harus jalan kaki hingga puluhan kilometer.
Tantangan ekspedisinya tidak sebatas itu. Sebagian besar desa yang ia temukan hampir tidak bisa dikenali sesuai dengan nama aslinya. Mayoritas telah berganti nama. Hadi menggunakan toponimi desa yang namanya masih bertahan. Desa itu dijadikan petunjuk guna menelusuri desa-desa lain. Saat melacak rute perjalanan Hayam Wuruk di hari pertama, misalnya, ia menjadikan Trowulan dan Kepulungan sebagai patokannya. Ia lalu mencari sebelas desa lain di sekitar dua tempat tersebut, seperti Japan, Pendowo, Tebu, dan Daluan. Ternyata nama Japan telah hilang (meski sebenarnya ada Japanan di dekat sana). Desa Tebu masih ada. Sedangkan Desa Pendowo dan Daluan sudah berubah nama.
Hadi banyak menemui dan mewancarai para sesepuh desa untuk melacak perubahan nama desa. Dan dia mendapat data bahwa memang banyak desa yang berganti nama. Desa Modopuro dulunya bernama Daluan. Adapun Pendowo mengalami perubahan gejala fonetis menjadi Pandaan. Pendowo itu menurut Hadi Sidomulyo adalah nama desa yang juga disebut Mpu Bharada dalam serat Calon Arang, naskah yang dibuat pada masa Kediri (abad ke-12, sebelum Majapahit). Sejumlah literatur, baik yang berupa naskah kuno seperti Calon Arang maupun buku-buku lain yang lahir setelahnya, memang dia pakai sebagai pendukung.
Cara lain yang digunakan Hadi untuk melacak perubahan nama-nama desa adalah dengan mengenali perubahan lambang bunyi. Contoh unik ia dapati ketika mencari Desa Kamirahan yang dijelaskan Prapanca berada di sekitar pantai selatan, tidak jauh dari Lumajang. Dalam peta, nama desa itu tidak lagi terdeteksi. Dugaan Hadi kala itu mengarah pada suatu tempat di sekitar Pantai Bambang. Tebakannya jitu. Sesepuh desa yang ia temui mengatakan Pantai Bambang dulunya bernama Kamirahan, lalu berubah menjadi Abang-abang (“abang” = merah) dan belakangan sebutan desa itu menjadi lebih ringkas: Pantai Bambang.
Di sekitar Pantai Paseban, Jember selatan, desa yang ia temukan tidak hanya berubah nama. Tempat yang dijelaskan Prapanca dengan sebutan Rabut Lawang rupanya mengalami perubahan topografi. Dalam deskripsi Prapanca, Rabut Lawang adalah muara Sungai Bondoyudo. Iring-iringan rombongan Raja diuraikan Prapanca akan melintasi sungai itu namun sempat terhenti. Mereka harus menunggu air surut sebelum menyeberang. Nah, seseorang yang tidak jeli membaca perubahan tata kota pasti akan terjebak. Sebab, di zaman Belanda, aliran Sungai Bondoyudo itu dialihkan ke arah timur mengikuti garis pantai sepanjang empat kilometer. Sungai itu kini bermuara di Desa Tempuran.
Migrasi kelompok masyarakat juga ikut mempengaruhi perubahan nama tempat. Hal itu Hadi temukan saat mencari Desa Alang-alang Dhowo. Desa itu disinggahi rombongan Hayam Wuruk selepas Panarukan. Desa yang juga diceritakan dalam serat Calon Arang ini tidak lagi terekam dalam peta. Namun jejaknya masih bisa ditelusuri dari keterangan sesepuh desa, khususnya mereka yang berasal dari etnis Madura. Desa itu sekarang menurut Hadi bernama Lang Debhe. Debhe itu bahasa Madura, artinya tinggi. Perubahan itu terjadi karena dulu banyak warga Madura yang bermigrasi ke tempat tersebut.
Menurut Hadi, hasil penelusurannya kala itu berhasil menemukan 80 persen desa saja. Sisanya sulit dilacak karena banyak sebab. Di Lumajang, misalnya, ia gagal memastikan rute perjalanan karena keterangan yang dibuat Prapanca sangat minim. Tidak puas dengan temuannya, Hadi mengulang ekspedisinya pada 2006. Sebuah alat pelacak tempat (global positioning system) dipakainya saat itu.
Dalam penelusurannya di lapangan, Hadi banyak memunculkan perspektif baru atas lokasi-lokasi Nagarakretagama. Madakaripura misalnya. Nama, pertapaan terakhir Gajah Mada yang disebut Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakretagama bukanlah, selama ini diyakini para ahli letaknya di Probolinggo. Tapi dari temuannya di lapangan, Hadi bersikukuh lokasi Madakaripura tersebut di Pasuruan.
Madakaripura punya arti penting bagi penelitian sejarah Majapahit. Kota ini merupakan wilayah yang dihadiahkan Raja Hayam Wuruk kepada Mahapatih Gajah Mada. Saat melakukan ekspedisi ke bagian timur wilayah kekuasaannya pada 1359 itu, Hayam Wuruk sempat menyinggahi kota ini. Dijelaskan dalam Nagarakretagama bahwa Raja sempat istirahat dua malam di sana. Penduduk dari sebelas desa menyambut sambil membawa seserahan berupa makanan. Kemudian Raja pergi ke sumber air suci. Keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan melalui Ranu Akuning. Ranu artinya danau. Dengan kata lain, perjalanan itu pastilah melalui tempat yang memiliki danau.
Selama ini Kota Madakaripura diyakini terletak di daerah Probolinggo, tepatnya di kaki Gunung Bromo. Namanya dihubung-hubungkan dengan area wisata yang panorama alamnya sangat menawan. Di sana terdapat air terjun Madakaripura di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang. Aliran airnya merintik halus dari lereng bukit setinggi 30 meter. Di pintu masuknya kini berdiri sebuah patung Gajah Mada yang tengah bersemadi. Tapi Hadi mencium satu kejanggalan. Posisi Madakaripura di Probolinggo rupanya tidak didukung toponimi desa-desa yang dijelaskan Prapanca. Tidak ada Desa Dadap. Begitu pula nama desa lain, seperti Blambangan Wetan, Tenggilis Rejo, Bayaman, dan Lumbang.
Menurut Hadi, kekeliruan itu muncul karena para ahli hanya mengandalkan peta topografis. Penentuan air terjun Madakaripura semata didasari lokasinya yang berdekatan dengan Desa Ambulu (desa yang disebut Prapanca). Padahal, di Pulau Jawa, Ambulu adalah nama yang sangat pasaran. Desa yang sama bisa ditemukan di berbagai daerah, seperti di Jember dan Banyuwangi. Celah itulah yang mendorong Hadi menapak tilas tempat-tempat yang disebut Prapanca. Hasil penelusurannya tidak sia-sia. Ia sampai pada satu kesimpulan: tempat yang dimaksud berada di sebelah tenggara Kota Pasuruan.
Di Pasuruan dari sebelas desa yang dijelaskan Prapanca, ia berhasil menemukan delapan desa di antaranya. Jarak desa-desa itu pun berdekatan, meski sebagian telah berganti nama. Tapi ada satu pertanyaan yang mengusik pikirannya: di sekitar wilayah itu ternyata tidak ada daerah bernama Madakaripura. Kuat dugaan, Kota Madakaripura telah berganti nama. Dari sumber Portugis yang ditulis pada abad ke-16 Hadi memperoleh data bahwa saat Portugis pertama kali masuk Jawa, daerah Pasuruan kala itu dikuasai keluarga Mahapatih.
Keyakinan Hadi semakin kuat setelah ia menyinggahi Desa Kebon Candi di Kecamatan Gedongwetan. Desa itu diapit desa Tenggilis dan Bayaman. Konon, nama desa itu digunakan lantaran di daerah tersebut banyak ditemukan candi Buddha. Sebuah petunjuk datang ketika ia mengunjungi sebuah masjid tua. Di halamannya terserak peninggalan situs kuno berupa lapik arca. Beberapa masih utuh, namun sebagian besar hilang dicuri orang. Pada zaman Belanda, kata Hadi, Kebon Candi merupakan wilayah berstatus distrik. Dengan status tersebut, dapat disimpulkan bahwa desa itu dulu merupakan wilayah yang memainkan peran cukup penting.
Lalu di manakah letak sumber air suci dan danau yang dimaksud Prapanca? Menurut Hadi, sumber air yang dimaksud tidak lain adalah Pemandian Banyubiru. Banyubiru adalah sumber air yang sejak dulu dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat Pasuruan. Letaknya di Desa Sumberejo, sekitar tiga kilometer ke arah timur dari Desa Kebon Candi. Di dalam area wisata itu juga tersimpan banyak benda bersejarah berupa arca. Tidak jauh dari Banyubiru terdapat danau yang cukup luas. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Ranu Grati. Hadi berkeyakinan, tempat itu dahulu bernama Ranu Akuning.
Penentuan danau itu awalnya kurang meyakinkan. Menurut rakyat setempat, nama Ranu Grati berasal dari sebuah legenda yang versi ceritanya cukup banyak. Namun yang menjadi dasar rujukan analisisnya bukanlah legenda tersebut. Kesimpulan itu setelah ia menemukan pasar yang disebut Prapanca: Blera. Pasar itu terletak di pinggir utara Danau Ranu Grati. Tidak jauh dari daerah itu terdapat sentra perajin keris. Tepatnya di Kecamatan Winongan. Keahlian mereka mereka menurut dugaan Hadi diwariskan turun-temurun sejak dulu. Sebagai pemimpin angkatan perang, Gajah Mada pasti memerlukan banyak senjata.
Hadi memang tidak tegas menyebut letak Madakaripura. Menurut analisisnya, kota itu berada di sekitar Kebon Candi atau Winongan. Atau mungkin dulunya sebuah nama yang menyatukan desa-desa tersebut. Yang jelas, kata dia, semua penemuannya itu saling mendukung. Nama tempat, penanda alam, ataupun situs kuno yang terserak di sekitar wilayah itu menjadi petunjuknya.
***
Beberapa tahun terakhir ini Hadi Sidomulyo juga melakukan survei atas reruntuhan candi-candi di sekujur lereng Gunung Penanggungan Jawa Timur. Pegunungan Penanggungan pada zaman lampau dianggap suci karena mirip dengan Mahameru di Jambhudwipa (India), berupa satu gunung utama dikelilingi beberapa puncak gunung. Pegunungan Penanggungan terdiri atas Gunung Penanggungan (1.653 meter) yang dikelilingi empat puncak gunung: Gajah Mungkur (setinggi 1.084 meter di sisi timur laut), Kemuncup (1.238 meter, tenggara), Sarahklopo (1.235 meter, barat daya), dan Gunung Bekel (barat laut).
Pembangunan situs pemujaan di Penanggungan, bermula pada abad ke-10. Peninggalan tertua adalah pemandian Jalatunda, dengan tahun pembuatan 977 Masehi. Sebelum abad ke-10, belum ada peradaban yang tinggal di Gunung Penanggungan. Kalaupun ada, sifatnya tersebar dan belum tersentuh agama Buddha-Hindu. Punden berundak dan altar pemujaan menjadi bukti telak atas kehadiran agama lokal di Penanggung. Pembangunan situs keagamaan marak setelah Kerajaan Mataram hijrah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pembangunan berhenti pada 1511, seiring dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Namun pada masa itu masih banyak resi yang melakukan meditasi di Penanggungan. Baru pada 1543 pertapaan berhenti total karena serangan Kerajaan Demak. Lalu para Petapa hijrah ke timur, ke arah Bromo dan Bali.
Penelitian pertama di Gunung Penanggungan dilakukan arkeolog Belanda, Stutterheim (1892-1942), pada 1926. Menurut Stutterheim, bangunan suci berwujud punden berundak di Penanggungan merupakan tempat pemujaan arwah leluhur. Stutterheim, yang pernah menjabat Direktur Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) menggantikan Frederik David Kan Bosch, melanjutkan penelitiannya dengan survei lapangan pada 1936, 1937, dan 1940. Penelitian itu berhasil mencatatkan 81 situs kepurbakalaan yang tersebar di lerengnya, terutama di sebelah utara dan barat-sebagian besar berupa punden berundak dan gua pertapaan, selain artefak lepas. Semua situs itu diberi tanda dengan angka Romawi: I sampai LXXXI.
Sayangnya, hasil survei ini tidak pernah diterbitkan sampai V.R. van Romondt melakukan pendataan ulang dengan hasil berupa laporan berjudul “Peninggalan-peninggalan Purbakala di Gunung Penanggungan: Hasil Penyelidikan di Gunung Penanggungan Selama Tahun 1936, 1937, dan 1940”, yang diterbitkan Dinas Purbakala pada 1951. Tapi Romondt gagal menempatkan sepertiga dari temuan Stutterheim itu dalam peta yang ia buat. Hampir 30 situs hilang karena dicuri atau tertelan alam.
Beruntung, Ichwani, kepala juru gambar yang ikut survei lapangan pada 1930-an, dapat endeskripsi ulang 51 situs. Laporan Ichwani inilah yang menjadi pedoman bagi para peneliti masa sekarang. Misalnya survei yang dilakukan Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional pada 1975. Juga survei yang dilaksanakan tim Keluarga Mahasiswa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (Kama-FSUI) pada 1983. Upaya inventarisasi situs arkeologi yang dilakukan Kama-FSUI di bawah pimpinan Agus Aris Munandar itu berhasil mendokumentasikan 41 situs dari lereng utara dan barat hingga puncak Penanggungan. Tidak hanya kali itu, Agus kembali mengunjungi Penanggungan pada 1985 dan 1989 untuk melengkapi tesisnya yang berjudul “Kegiatan Keagamaan di Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14-15”.
Pawitra adalah sebutan lain untuk Penanggungan. Dalam kitab Tantu Panggelaran yang dibuat pada 1635 diceritakan perihal pemindahan separuh tubuh hingga puncak Mahameru dari Jambhudwipa (Himalaya, India) ke Jawadwipa oleh Dewa Brahma dan Wisnu. Dalam pemindahan itu, potongan tubuh Mahameru berjatuhan hingga membentuk Gunung Lawu, Wilis, Kelud, Kawi, Arjuna, dan Welirang, serta Bromo, dan potongan paling besar menjadi Semeru. Tinggallah bagian puncaknya yang berdiri sendiri menjadi Pawitra. Nama Pawitra juga tertulis dalam prasasti suci yang ditemukan di lereng timur Gunung Penanggungan. Disebutkan bahwa di Pawitra terdapat tempat pertapaan (dharmasrama).
Hadi Sidomulyo sendiri menyusuri berbagai sisi lereng Penanggungan. Hadi Sidomulyo melakukan pendataan kembali. Ia mempelajari semua data bekas candi-candi yang ada di Penanggungan yang telah diteliti para arkeolog dan melakukan pensurveian ulang. Ia melakukan semacam pemutakhiran inventarisasi data. Dan ternyata ia menemukan beberapa bekas-bekas candi yang tak ada dalam inventarisasi yang telah dilakukan para arkeolog.
Di lereng timur Gunung Bekel, kawasan Pegunungan Penanggungan, misalnya ia menemukan bekas candi yang sebelumnya tidak pernah didata para arkeolog sejak zaman Williem Frederik, peneliti pertama yang mendata situs purbakala di Gunung Penanggungan, hampir 11 windu silam. Bekas candi itu terbuat dari batu alam yang tertata rapi membentuk teras berundak berukuran sekitar 16 meter persegi itu. Oleh Hadi, bekas candi itu spontan dia beri nama Candi Tawon lantaran saat menemukannya di dekatnya ada sarang tawon seukuran badan orang.
Area hutan Gunung Bekel seluas 80 hektare pada pertengahan Oktober 2013 pernah terbakar. Itu menyebabkan Gunung Bekel gundul. Yang tersisa hanya pokok-pokok pohon yang kering tanpa daun. Tapi itu memudahkan Hadi menemukan kembali Candi Tawon. Sebelumnya candi itu tertimbun oleh ilalang lebat dan tak tampak fisiknya. Tawon adalah satu dari 116 situs arkeologi yang diinventarisasi oleh tim yang dipimpin Hadi. Tim ekspedisi Penanggungan Archaeological Trail (PAT) yang dibentuk Pusat Pelatihan Universitas Surabaya (Ubaya Training Center, UTC) itu sejak Mei 2012 hingga November 2013 melakukan pendataan kembali situs kepurbakalaan di Gunung Penanggungan.
Jumlah 116 situs di Gunung Penanggungan itu adalah hasil keseluruhan, termasuk pengidentifikasian kembali situs yang telah ditemukan para peneliti terdahulu, baik arkeolog Belanda maupun Indonesia. Mereka memeriksa apakah situs-situs itu masih ada atau lenyap. Menurut Hadi, dapat dipastikan 80 persen situs candi yang tersebar di kawasan Gunung Penanggungan merupakan peninggalan Majapahit. Ada keterikatan yang kuat antara situs Trowulan dan situs candi yang berada di Gunung Penanggungan. Menurut Hadi, sementara Trowulan sebagai keratonnya Majapahit atau pusat administrasi pemerintahan, Gunung Penanggungan merupakan pusat religinya. “Bisa dikatakan Gunung Penanggungan memiliki situs purbakala paling banyak di Indonesia,” ujarnya.
Demi keamanan atas temuan itu, setelah mendokumentasikan, temuan baru itu oleh Hadi dikubur kembali. Hadi juga merekam koordinat jalur menuju candi baru itu dalam perangkat Global Positioning System miliknya. Dia menegaskan yang perlu dilakukan saat ini adalah langkah penyelamatan terhadap situs peninggalan di kawasan Penanggungan. Ia mengusulkan agar kawasan Gunung Penanggungan ditetapkan sebagai cagar alam dan budaya. Setelah itu dilakukan pemetaan kawasan. Dengan zonasi, kata Hadi, keberadaan situs menjadi aman karena pintu masuknya dijaga. Pemetaan juga termasuk menjaga jangan sampai industri masuk sampai ke atas.
Samana Foundation
***
Peter B R Carey adalah seorang sejarawan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk meneliti sejarah Nusantara, khususnya sejarah Jawa dengan fokus sejarah Pangeran Diponegoro dan tata kuasa Jawa masa kolonial. Ia telah mempublikasikan banyak buku tentang perang Jawa dan peran Pangeran Diponegoro.
Salah satu alasan kami, Samana Foundation menganugerahi Award Sang Hyang Kamahayanikan kepada Peter Carey adalah karena ia kami pandang mampu menjelaskan dunia batin atau dunia dalam dari Diponegoro. Uraian mengenai sosok Diponegoro di tangan Carey bukan hanya sekedar deskripsi mengenai perang dan siasat-siasatnya, tapi suatu uraian yang menjelajah masuk, mencoba mengungkit alam spiritual Diponegoro.
Disertasinya The Power of Prophecy Prince Diponegoro and the End of an Old Order in Java 1785-1855, yang diterjemahkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) sebagai Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, menjelaskan hal itu.
Disertasi itu lebih dari 1.000 halaman tebalnya. Hal-hal detail dari Diponegoro yang tak pernah kita ketahui tersaji dalam buku ini. Termasuk lelono brata tersebut. Membaca disertasi itu kita mampu merenungkan pergumulan Diponegoro antara dunia Islam dan dunia Kejawen. Bagaimana Diponegoro kemudian menyaksikan Jawa yang makin kehilangan harga diri, terpanggil menjadi Ratu Adil. Sesuatu visi eskatologis yang menurutnya merupakan visi Jawa dan Islam sekaligus.
Untuk menggambarkan konteks kesejarahan kemunculan Ratu Adil itu, secara luar biasa Carey menggabungkan data arsip militer Inggris, arsip militer Belanda, karya peneliti lain tentang Jawa, serat Jawa, dan surat-surat Diponegoro. Seperti kita ketahui, Raffles pernah menguasai Yogyakarta dan pernah menjarah isi istana Yogyakarta - termasuk semua dokumennya.
Selama empat hari harta Keraton dipindahkan ke karesidenan dengan pedati dan kuli panggul. Yang paling banyak diangkut adalah senjata, wayang, semua gamelan keraton, serta arsip dan naskah. Naskah-naskah itu mencakup karya sastra seperti babad dan dokumen-dokumen, misalnya perincian tanah jabatan milik keluarga Sultan. Naskah-naskah tersebut kini disimpan di British Museum. Carey banyak memanfaatkan data itu. Ia juga bertumpu pada Babad Diponegoro-suatu catatan harian yang dibuat Diponegoro saat dalam pengasingan di Menado dan Makassar. Ada berbagai versi babad itu: versi Yogyakarta, versi Surakarta, dan sebagainya. Carey mempelajari semuanya.
Carey menjelaskan, sejak masih remaja Diponegoro, sudah terlibat dalam pergulatan intelektual. Ia membaca berbagai kitab hukum dan politik Islam. Tapi ia juga gemar membaca tasawuf dan suluk Jawa. Satu kitab tasawuf yang paling disukainya adalah Kitab Tuhfah yang berisi uraian tentang “martabat tujuh” , ajaran sufisme tentang tujuh tahapan eksistensi manusia. Umur 20 tahun, Diponegoro melakukan perjalanan ke pesantren-pesantren sekitar Yogyakarta. Diponegoro menanggalkan baju kebangsawanannya surjan berkerah tinggi, kain, dan penutup kepala dari batik tulis. Ia lalu berpakaian santri biasa, sorban hitam, sarung kasar, baju putih tanpa kancing tanpa kerah. Ia juga menyepi di makam Sunan Kalijaga di Kadilangu dan Masjid Agung Demak.
Setelah dari pesantren ke pesantren, ia kemudian menjalani tirakat-tirakat dan tapa. Pertama-tama ia melakukan meditasi di Goa Song Kamal, di Jejeran, sebelah selatan Yogja. Di situ ia mengalami peristiwa penampakan Sunan Kalijaga. Sang Sunan dalam bisikannya menyatakan bahwa Diponegoro adalah raja di masa depan. Diponegoro juga merasa bahwa ia diminta oleh Sunan Kalijaga untuk menjadi penjaga spiritual para raja Jawa. Dari Goa Song Kamal, dengan telanjang kaki, ia berjalan kaki ke makam para leluhurnya di Imogiri. Dia menghabiskan waktu seminggu bersemedi di Imogiri.
Dari Imogiri, Diponegoro lalu meneruskan perjalanannya menyusuri goa-goa Pantai Selatan. Pertama kali dia berhenti di Goa Siluman, dekat Sungai Oyo. Dari situ ia menuju Goa Surocolo, di tepi Kali Opak, Kecamatan Gamelan, Gunung Kidul. Diponegoro menghabiskan waktu dua malam di situ. Setelah itu, dia melintasi kaki Gunung Kidul menuju Goa Langse di Parang Tritis. Goa Langse dikenal karena lokasinya yang seakan menggantung di atas Laut Selatan. Gemuruh permukaan air Laut Selatan nyaris sejajar dengan jalan masuk ke Goa Langse. Sampai saat ini Goa Langse masih menjadi tempat tapa bagi para peziarah. Kita ingat beberapa tahun lalu penyair Yogyakarta, Ragil Suwarno Pragolapati pernah hilang – dan tak pernah ditemukan kembali saat melakukan meditasi di situ. Di sinilah, pada tahun 1805 selama dua minggu Diponegoro bertapa dan merasa bertemu dengan Ratu Kidul. Saat itu mereka berjumpa tapi tanpa kata-kata.
Dari Goa Langse, Diponegoro pun turun menyusuri Pantai Parangtritis. Ia kemudian tidur di Pantai Parang Kusumo. Di situlah ia mendengar suara gaib yang menyatakan Yogyakarta bakal hancur dan tanah Jawa akan terombang-ambing dalam situasi tak menentu. Wiwit bubrah tanah Jawi …. kata suara itu.
Carey, kepada kita mampu memberikan gambaran betapa Diponegoro sama sekali tak melihat penglihatan-penglihatan atau wisik-wisik gaib yang dialaminya itu sebagai sesuatu yang musyrik. Sebagai seorang muslim, ia tetap mengganggap jalan batin, jalan lelono adalah jalan untuk bisa memahami pesan-pesan Tuhan. Diponegoro merasa menanggung beban suatu misi profetik. Dari bisikan-bisikan gaib itu, ia merasa mendapat tugas illahiah untuk sebuah penyelamatan tanah Jawa. Itu juga menurutnya bukan jalan yang menyimpang dari Islam. Sebuah sinkretisme ada di dalam dirinya. Kalaupun kemudian dalam perang Diponegoro menampilkan dirinya sebagai sosok bersurban dan berjubah putih―sebagaimana ulama-ulama Arab- menurut Carey, hal itu berbeda sekali dengan tokoh-tokoh gerakan Padri yang menganut Wahabisme. Kostum Diponegoro lebih mencerminkan lambang sebuah kesucian.
Antara umur 20 sampai 40 tahun, Diponegoro menyaksikan bagaimana keraton Jawa makin kehilangan otoritas dan Jawa makin wiwit bubrah itu. Tahun 1808 Daendels ditunjuk penguasa Perancis menjadi Gubernur Jenderal di Batavia. Di Eropa saat itu Perancis menaklukan Belanda. Jawa berada di bawah kekuasaan Napoleon. Daendels, sebagai wakil Napoleon di Jawa melakukan berbagai reformasi yang menyebabkan kewibawaan keraton dan raja dipangkas.
Residen-residen Belanda yang diangkat Daendels kedudukannya disejajarkan dengan raja. Hal itu sangat menyakitkan hati bagi keraton Jawa. Daendels juga memonopoli perdagangan kayu jati sampai ke daerah timur Ponorogo dan Madiun. Ini menyebabkan seorang bupati wedana bernama Raden Ronggo memberontak. Dia memimpin pemberontakan dari Maospati, Madiun. Diponegoro kecewa terhadap Sultan karena justru menyokong Daendels menumpas pemberontakan Raden Ronggo. Di mata Diponogeoro, itu makin menambah kebangkrutan keraton. Karena Daendels kemudian meminta uang ganti rugi (bayaran) kepada keraton untuk jerih tentara-tentaranya saat menumpas Raden Ronggo. Uang tersebut menurut Carey bila dihitung dalam kurs sekarang sampai mencapai 60 juta dollar Amerika.
Setelah Daendels hengkang dari tanah Jawa, kemudian datang Raffles. Raffles makin memangkas sumber-sumber keuangan keraton. Kapal-kapal angkut dan perang Inggris melakukan pendaratan di Pelabuhan Cilincing, Batavia pada Agustus 1811. Setelah menduduki Batavia, Raffles menyerbu keraton Jogja pada 19-20 Juni 1812. Pasukan Inggris terdiri dari tentara Inggris dan Sepoy. Raffles dibantu oleh Pangeran Notokusumo dan juga Kapitan Cina di Yogyakarta, Tan Jin Sing. Dialah yang menyediakan tangga-tangga bambu untuk mengepung tembok keraton. Disinilah Diponegoro menyaksikan bagaimana keraton kehilangan kewibawan luar biasa. Keraton dilucuti oleh Inggris. Raffles melakukan penjarahan besar-besaran seluruh aset-aset keraton. Suatu kleptomania akbar.
Belanda kemudian mengambil lagi pemerintahan pada Agustus 1816. Kebijakan residen Belanda di Yogja, Nahuys Van Burgst tambah memperparah keraton. Burgst menekan kalangan bangsawan istana agar menyewakan lahan-lahan dan tanah-tanah untuk para pedagang Belanda yang memiliki modal besar. Tanah-tanah milik keluarga istana banyak yang kemudian dikuasai penyewa Eropa. Kebijakan Burgst selanjutnya adalah memonopoli gerbang cukai. Dan kemudia mengizinkan merebaknya perdagangan candu secara eceran di masyarakat oleh pedagang Tionghoa yang membuat masyarakat kecil pun mengkonsumsi.
Diponegoro tak tahan melihat semua itu. Benih-benih pemberontakan kemudian terkristalisasi dalam batin Diponegoro. Bayangannya menatap jauh ke depan. Ia menginginkan kembali datangnya Jawa yang terhormat. Panggilan Mesianistik tersebut makin menggumpal setelah dalam suatu bulan puasa di Gua Secang, Selarong, ia kembali mendapat penglihatan. Tepatnya bulan puasa 19 Mei tahun 1824. Malam itu adalah malam selikuran (malam ke 21 bulan Ramadhan) ramadhan. Malam yang dikenal umat Islam sebagai malam turunnya Lailatul Qadar. Malam yang penuh berkah dan ampunan. Di Gua Secang itu, di malam Lailatul Qadar itu, mata pangeran Diponegoro terpejam. Antara tidur dan sadar, Diponegoro melihat ada sosok berpakaian haji di depannya.
Diponegoro terpana dan bertanya,
“Aku tak mengenal Anda, dari mana gerangan Anda?
“Aku tak punya rumah. Aku datang karena diutus menjemput Anda yang mulia,” jawab sosok itu.
Diponegoro bertanya lanjut:
“Siapa yang menyuruh Anda itu dan di mana tinggalnya?”
Sosok misterius itu menjawab tenang: “Sesungguhnya, ia tak punya rumah. Seluruh tanah Jawa ia anggap rumahnya. Dia adalah yang menyandang gelar Ratu Adil, dialah yang mengutus saya.”
Inilah penampakan yang amat menentukan bagi Diponegoro. Iman Messianistiknya makin mantap tatkala setahun kemudian, tepatnya 16 Mei tahun 1825 di Gua Secang, ia mendapat penampakan lagi. Setelah berbuka puasa, ia bermeditasi di atas di batu. Tiba-tiba delapan orang yang bersinar menampakkan diri. Mereka menyapa Diponegoro dan membacakan surat dari: Kang Sinuwun Kanjeng Sultan Ngabdulkamid Erucokro Sayidin Panatagama. Mereka lalu mengumandangkan takbir. Diponegoro ikut melakukan takbir.
Terwujudnya pemberontakan itu seperti sering diceritakan dalam sejarah tatkala pemerintah Belanda melakukan perbaikan jalan di Yogyakarta dan melakukan pematokan-pematokan. Pada 17 Juni 1825 , patok-patok ini mencapai Tegalrejo yang merupakan wilayahnya Diponegoro. Diponegoro menyuruh serdadunya mencabut dan mengganti patok-patok itu dengan tombak-tombak. Inilah awal peperangan. Dalam sejarah kolonial Belanda, peperangan melawan Diponegoro ini dianggap sangat menguras energi dan merugikan.
Dengan menarik Carey mencatat sebelum pemberontakan Diponegoro itu, sudah ada pemberontakan kecil-kecilan, yang juga mengataskannamakan gerakan Ratu Adil. Namun pemberontakan itu bukan dilakukan seorang pangeran tapi oleh kalangan biasa. Pada 1817 di Bagelen timur, Yogya, misalnya muncul seorang sosok bernama Raden Mas Umar Mahdi yang menyatakan diri sebagai Imam Mahdi. Ia menyeru semua penduduk Bagelen, baik Jawa maupun Tionghoa, tunduk kepadanya. Ia memimpin 50 pengikut yang membawa tombak, pedang, atau keris untuk menyerang pedagang Tionghoa dan penjaga gerbang cukai. Ia ditangkap dan dihukum cambuk.
Pada Juli tahun itu juga, sekitar 4.000 orang Jawa datang di Ketonggo, Madiun, Jawa Timur. Mereka mengumpulkan padi untuk menyambut pemimpin baru yang dipercaya datang tak lama kemudian. Bermacam ramalan bermunculan saat itu. Salah satu yang ditakuti oleh pemerintah Belanda adalah ramalan seorang bernama Iman Sampurno. Ia mengatakan akan datang wabah kolera dan sampar pada 21 Oktober 1819 sampai 8 Oktober 1820. Sampar besar ini dinilai sebagai salah satu tanda munculnya Ratu Adil. Ramalan itu ternyata benar. Pada tahun-tahun itu, meski waktunya tak pas benar, memang terjadi musibah besar di Asia. Wabah kolera masuk dari India melalui Pulau Pinang dan Malaka, hingga masuk ke Jawa. Pada 1821, tanah Jawa juga dilanda musim panas yang mengerikan. Cuaca kering, kemarau berkepanjangan, gagal panen di mana-mana. Pada 1822 Gunung Merapi meletus.
Carey mencatat serangkaian pemberontakan pada musim kemarau 1822 tersebut. Seorang pangeran bernama Diposono melakukan makar. Tubuh lelaki ini kecil dan cacat. Ia menderita sakit jiwa tapi mahir dalam ilmu nujum dan primbon. Ia ingin melawan Belanda dan Tionghoa. Dengan perantara seorang petualang dari Surakarta bernama Jokomulyo, ia menghimpun dukungan aneka macam pentolan begal dan perampok di Kedu, Jawa Tengah. Juga seorang dukun perempuan pengelana bernama Embok Kajen, yang menampilkan diri sebagai Raden Ayu Guru. Dua pemberontakan hendak dilakukannya serentak di Kedu selatan dan di Yogya selatan. Namun Residen Kedu Pieter Le Clercg dengan pasukan polisi berkudanya sebanyak 150 orang mampu menangkap Diposono beserta pengikutnya di Desa Menayu, dekat Candi Borobudur-Mendut.
Carey menyebut gerakan Ratu Adil kecil ini sesungguhnya merupakan pendahuluan dari pemberontakan besar Diponegoro pada 1825. Diponegoro sejatinya menjadi satria yang ditunggu-tunggu. Banyak orang menganggap ia sesungguhnya tokoh yang disebut oleh Iman Sampurno di atas sebagai seorang manusia Mataram sejati.
Kita tahu, perang kemudian berlangsung kurang lebih selama lima tahun. Diponegoro memanfaatkan jaringan kyai pedesaan. Diponegoro mengorganisasikan kesatuan tentaranya dengan sistem pangkat-pangkat model Turki Ottoman. Para perwira pasukannya digelari Pasha. Di tengah-tengah pertempuran yang hebat, di Kulon Progo pada sekitar Juli 1826, Diponegoro mendapat penampakan lagi. Saat itu ia tengah berkemah di tepi Kali Progo. Ratu Kidul datang menawarkan bantuan. Tapi Sang Ratu menyatakan, bila ia memberikan bantuan, ia minta dimohonkan kepada Allah agar dikembalikan kembali menjadi manusia normal. Sang pangeran menolak tawaran Nyai Roro Kidul.
Siasat perang Diponegoro adalah gerilya. Tapi kekalahan demi kekalahan kemudian dialami Diponegoro. Penasehat terdekatnya Kyai Mojo yang tadinya demikian solid dengan Diponegoro berselisih, dan memisahkan diri. Aliansi santri dan ksatria kemudian menjadi tak stabil karenanya. Pada November 1828, Kyai Mojo menyerah kepada Belanda. Diponegoro sendiri pernah hampir tertangkap dan dengan hanya ditemani dua orang punggawanya: Bantengwareng dan Roto, ia lari masuk ke hutan-hutan perawan sebelah barat Bagelen. Dalam hutan ia menderita Malaria. Kepalanya dibanderol 20.000 gulden.
Sampai akhirnya, pada bulan 28 Maret 1930, di sebuah bulan Puasa, terjadilah perundingan di kediaman karesidenan Magelang. De Kock membuat suatu jebakan. Carey menyebut Diponegoro antara tertipu dan menyerah terhormat. Diponegoro kemudian dibuang di Menado. Beberapa tahun tinggal di Menado, ia lalu dialihkan ke Makassar. Sepanjang pengasingannya tersebut, Diponegoro membuat catatan harian berisi renungannya yang merestrospeksi ulang kegiatannya dari mulai awal tirakat sampai perang. Sebuah renungan yang menampilkan betapapun ia gagal, tapi sebuah kegagalan yang terhormat. Catatan hariannya tetap menyampaikan visi apokalipti. Ia tetap mempertahankan keyakinan profetisnya. Ia tidak merevisinya.
Melalui uraian Carey kita mampu membayangkan, bagaimana di tengah kesepiannya Diponegoro masih mempertahankan sikap-sikap eskatologisnya. Di Makassar ia sering membuat daerah atau diagram-diagram untuk pengaturan nafas selama berdoa. Diponegoro wafat di Makassar pada tanggal 8 Januari 1855. Sebelum wafat sebetulnya ia ingin sekali ke Kabbah. Dalam pengasingan, ia menabung-nabung agar bisa suatu waktu pergi ke Mekkah tapi itu tak sampai terjadi.
Apa yang dilakukan Peter Carey menurut hemat kami, Samana Foundation adalah sesuatu yang luar biasa. Seumur hidupnya ia mengabdikan diri untuk memahami Diponegoro. Ia bukan saja mampu membaca apa yang tersurat dari Diponegoro tapi juga yang tersirat. Setelah Sartono Kartodirdjo melahirkan buku Pemberontakan Petani Banten 1888, buku Carey bisa disebut salah satu referensi yang terbaik mengenai Ratu Adil.
Dalam sejarah, kita tahu gagasan Ratu Adil tidak berhenti di Diponegoro. Setelah Diponegoro, meskipun dalam skala kecil gerakan-gerakan millinearisme menginginkan masyarakat yang adil terjadi sporadis di sana sini. Sebagaimana Diponegoro, para pemimpin gerakan milinearisme ini membayangkan diri sebagai Erucakra. Sartono sendiri pernah menguraikan misalkan pada 1870 ada gerakan Kobra atau Jumadil kubra di Pekalongan dan Banyumas. Atau pemberontakan Entong gendut di Tanjung Timur (Cililitan) pada 1916. Sebagaimana juga dikatakan Sartono, gerakan-gerakan semacam ini bukan hanya di Jawa tapi juga terjadi berbagai sudut Nusantara ini.
Pada dasarnya, semua gerakan ini berkenaan dengan idaman akan munculnya suatu masyarakat yang tenteram dan sejahtera. Idaman akan datangnya suatu zaman keemasan, yang pemimpinnya berani menyejahterahkan masyarakatnya daripada menguntungkan asing. Apa yang dicapai Peter Carey bisa menjadi referensi untuk para peneliti menggeluti harapan-harapan keadilan dasar di seluruh Nusantara yang belum digali. Untuk itulah sebuah Award layak diterimanya.
***
Sejarawan kelahiran 1 September 1929 dan wafat di Jakarta 19 Juli 2011 ini adalah mahasiswa angkatan pertama di jurusan Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Disertasinya yang berjudul “Orang Laut – Bajak Laut - Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX” diakui sebagai salah satu kajian sejarah maritim terbaik Indonesia, di bawah promotor tokoh besar dalam ilmu sejarah, yaitu Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo. Disertasi itu kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul yang sama.
Lapian menjadi guru besar sejarah di Universitas Indonesia hingga wafatnya. Karena komitmen dan reputasinya yang menonjol dalam kajian sejarah maritim, ia kemudian dijuluki sebagai “nakhoda sejarah maritim Asia Tenggara”. Ia juga pernah menjadi Kepala Seksi Sejarah Angkatan Laut dan Maritim Markas Besar TNI AL, Ketua Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hingga pensiun pada tahun 1994.
Dalam buku “Orang Laut - Bajak Laut - Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX” kita menemukan kajian yang sangat komprehensif mengenai sejarah maririm di sekitar laut Sulawesi yang merupakan satu kesatuan dalam segi bahasa, etnologi, dan antropologis. Kajian tersebut menunjukkan kehidupan laut yang sangat rumit karena pada abad IX negara- negara kolonial secara intensif menanamkan pengaruhnya. Meskipun pada abad XVI Laut Sulawesi telah lebih dahulu dikunjungi oleh Spanyol dan Portugis serta Inggris sejak akhir abad XVIII yang muncul sebagai kekuatan kolonial ketiga di Laut Sulawesi.
Sebagai sebuah kawasan perairan, Laut Sulawesi adalah salah satu pusat kebudayaan maritim yang berpengaruh di kawasan timur Nusantara, wilayah Filipina dan sekitarnya. Kebudayaan di kawasan itu juga dikembangkan oleh penduduk pantai Kalimantan Timur, termasuk Sabah Timur yang termasuk suku bangsa Tidung. Kebudayaan yang juga berkembang hingga sungai besar di daerah delta yang dibentuk oleh muara-muara sungai, dengan berbagai jenis perahu seperti Jukung, lumbung dan gubang. Lapian juga banyak menyoroti wilayah perbatasan, terutama teritorial laut. Selain orang laut yang mencari kehidupan di laut, juga terdapat sekelompok masyarakat yang disebut sebagai bajak laut yang merampas barang dari kapal-kapal, terutama bajak laut Sulu, Mangindanao, Balangingi dan sebagainya. Selain orang laut dan bajak laut, ada kelompok lain, yaitu raja laut: kapitan laut, datu laut, pangeran laut. Keberadaan raja laut tidak bisa diabaikan dalam sejarah maritim karena mereka mewakili kekuatan kerajaan atau kesultanan, sebagai kekuatan laut yang resmi.
Jika bajak laut merupakan kekuatan tandingan yang oleh pemerintahan yang berkuasa dianggap ”liar”, orang laut adalah masyarakat yang tidak atau belum terorganisasi dan terinegrasi dalam sistem negara atau kerajaan. Mereka pada umumnya hidup nomaden dengan pergerakan yang tidak sampai ke laut lepas dan tinggal di tepi laut atau di sekitar laut dangkal, dalam perahu-perahu kecil yang dihuni oleh keluarga-keluarga. Dalam kehidupan yang serba terasing itu, orang laut juga sesekali melakukan kontrak dengan orang-orang yang ada di darat untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti beras, pakaian dan sebagainya. Orang darat menganggap orang laut sebagai kaum primitif dan berkebudayaan rendah. Tapi lama kelamaan mulai banyak orang laut yang pindah menetap ke darat karena menemukan kenyataan bahwa laut menjadi wilayah yang kian berbahaya dan semakin terbatasnya wilayah untuk mencari ikan.
Kehidupan laut yang melibatkan ketiga golongan tersebut semakin lama semakin rumit, terjadi tumpang tindih dan interdependensi dari ketiga golongan. Orang Laut dan Bajak Laut sering bekerja sama dengan sesama anggota kelompok masing-masing atau kelompok lain. Sedangkan Raja Laut harus terus mengakomodasi mereka untuk menjaga legitimasi kekuasaan maupun keberlangsungan ekonomi yang dijalankan. Dengan bangunan argumentasi yang kokoh didukung jangkauan literatur yang luas dalam berbagai bahasa, buku Lapian tersebut menjadi buku terpenting dalam sejarah bahari Nusantara. Selain buku tersebut, Lapian juga menulis buku Pelayaran dan Perniagaan Nusantara: Abad ke-16 dan 17 (2008) dan For Better or Worse – Collected Essays on Indonesian-Dutch Encounters (2010). Ia juga banyak menulis paper untuk seminar sejarah bahari di Indonesia maupun di luar negeri, terlibat dalam berbagai upaya pengembangan kebijakan dan pengkajian bahari Nusantara.
Indonesia adalah negara bahari dengan cakupan wilayah yang sangat luas dan terbentuk oleh sejarah yang panjang pula. Ironisnya, para pengaji sejarah bahari atau sejarawan bahari sungguh sangat sedikit jumlahnya. Hari ini sejarawan bahari sungguh langka. Bidang kajian bahari dianggap kurang seksi sehingga hanya orang-orang yang setia dan tahan bekerja dalam kesunyian saja yang dapat menempuhnya. AB Lapian adalah salah satu, mungkin satu-satunya perintis sejarah bahari yang setia dan terus bekerja tanpa lelah untuk menyelami sejarah bahari Nusantara yang begitu luas. Kontribusinya dalam pengembangan sejarah bahari Nusantara hingga kini belum ada yang menyamainya. Oleh karena itu, tanpa keraguan sedikit pun Samana Foundation memberikan Sanghyang Kamahayanikan 2013 kepada almarhum AB Lapian sebagai tokoh penting yang telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan pengkajian sejarah bahari Nusantara.
Juri untuk penerima penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award 2013 adalah: Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Sejawaran Bahari), Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ (Pengajar filsafat di UI dan STF Driyarkara, Jakarta), Ir. Widi Aswindi (Aktivis Sosial), Taufik Rahzen (Budayawan), dan Tim Samana Foundation yang terdiri dari: Dorothea Rosa Herliany, Imam Muhtarom, Seno Joko Suyono, Wicaksono Adi, Yoke Darmawan.
***
Untuk menentukan penerima penghargaan Sang Hyang Kamayanikan Award 2012, Tim dari Samana Foundation yang terdiri dari Seno Joko Suyono, Wicaksono Adi, Yoke Darmawan, Dorothea Rosa Herliany, dan Imam Muhtarom mengundang tiga orang pakar yaitu Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ, Taufik Rahzen dan Arswendo Atmowiloto. Setelah melalui telaah yang cukup panjang akhirnya tim juri memilih Singgih Hadi (SH) Mintardja sebagai penerima Sang Hyang Kamayanikan Award 2012.
Patut dicatat bahwa semasa hidupnya, SH Mintardja lebih banyak dikenal sebagai penulis cerita bersambung serial silat dengan setting kerajaan Mataram zaman Sultan Agung di beberapa surat kabar, seperti Harian Bernas berjudul Mendung di Atas Cakrawala dan Api Di Bukit Menoreh di Harian Kedaulatan Rakyat. Keduanya terbit di Yogyakarta. Episode terakhir yang hadir di hadapan pembaca Harian Bernas adalah episode ke 848 Mendung di Atas Cakrawala.
Berbekal pengetahuan sejarah, ditambah dengan pembacaannya terhadap Babad Tanah Jawi yang beraksara Jawa, lahir cerita Nagasasra Sabuk Inten. Prosa silat sebanyak 28 jilid itu meledak di pasaran dan amat digandrungi pembaca khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Setelah itu SH Mintardja menulis prosa Pelangi di Langit Singasari (dimuat di Harian Berita Nasional tahun 1970-an) kemudian dilanjutkan dengan serial Hijaunya Lembah dan Hijaunya Lereng Pegunungan. Dan sejak tahun 1967 pengarang ini mulai menulis Api di Bukit Menoreh yang mengambil latar berdirinya kerajaan Mataram Islam.
SH Mintardja telah menulis lebih dari 400 buku. Cerita berseri terpanjangnya adalah Api di Bukit Menoreh yang terdiri dari 396 buku. Buku-buku lainnya adalah: Tanah Warisan (8 episode); Matahari Esok Pagi (15 episode); Meraba Matahari (9 episode); Suramnya Bayang-bayang (34 episode); Sayap-sayap Terkembang (67 episode); Istana yang Suram (14 episode); Nagasasra Sabukinten (16 episode); Yang Terasing (13 episode); Mata Air di Bayangan Bukit (23 episode); Kembang Kecubung (6 episode); Jejak di Balik Bukit (40 episode); Tembang Tantangan (24 episode).
Dapat dikatakan bahwa SH Mintardja adalah bagian dari generasi pertama penulis silat Nusantara yang memperoleh pembaca sangat luas, khususnya di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tapi pembaca karya-karya SH. Mitardja kemudian semakin meluas melintasi batas-batas generasi dan cakupan subyek yang diangkat. Dalam sejarah penulisan cerita silat di Nusantara, dapat dikatakan bahwa pada lima dekade awal abad ke 20, cerita silat yang terbit kebanyakan merupakan hasil terjemahan atau adaptasi cerita-cerita dari Tiongkok.
Baru pada tahun 1950-1960-an muncul beberapa penulis cerita silat yang menghasilkan karya-karya bukan kisah saduran, salah satunya adalah Khoo Ping Ho, pengarang dari kota Sragen, Jawa Tengah yang menulis ratusan jilid buku, kebanyakan berlatar negeri Tiongkok (meski pengarangnya tidak pernah ke negeri tersebut). SH Mintardja adalah satu dari sederet penulis buku silat lokal, selain Widi Widayat (Cinta dan Tipu Muslihat dan Terbentur Nasib), Herman Pratikto (Bende Mataram dan Mencari Bende Mataram). Kemudian Bastian Tito penulis seri novel Wiro Sableng yang belakangan cukup sukses saat dijadikan novel seri.
SH Mintardja dipilih sebagai penerima Sang Hyang Kamahayanikan Award 2012 mengingat karya-karyanya yang unik dan bertolak pada kelindan antara kisah-kisah “sejarah” dalam permainan “fiksi” yang sangat merangsang. Dasi segi fiksi, karya-karyanya disusun menjadi sebentuk cerita yang kadang lepas dari apa yang sesungguhnya telah terjadi dalam sejarah. Beberapa tokoh penting dalam karya SH. Mintardja benar-benar ciptaan sang penulis. Sementara dalam memanfaatkan unsur-unsur sejarah, seperti pada prosa Nagasasra Sabuk Inten yang berlatar riwayat berdirinya Mataram baru dan menjelang runtuhnya kerajaan Demak Bintoro, para pembaca dapat menghayati Mataram sebagai sebuah sejarah yang sangat hidup.
Memang karya-karyanya cenderung mengukuhkan struktur kuasa Mataram sebagai kerajaan konsentris di mana Raja adalah pusat kosmos sehingga segala hal yang berada di sekitarnya terserap dalam kekuatan tersebut, pada tingkat tertentu karya-karya SH Mintardja telah memberi semacam “pengayaan” pemahaman terhadap riwayat sejarah Mataram. Karya-karya SH Mintardja adalah bagian dari produksi pengetahuan dalam lingkup masyarakat tradisional Jawa dengan pemusatan kuasa pada Sang Raja agung. Dalam konteks produksi dan penyebaran “imajinasi” semacam itu karya-karyanya hidup. Atau lebih tepat, karya-karyanya telah menghidupkan sejarah dalam bentuk prosa yang terus menerus dikonsumsi oleh para pembacanya. Dapat dikatakan bahwa karya-karyanya merupakan refleksi cara pandang masyarakat di mana ia hidup.
Penghargaan Sang Hyang Kamayahanikan 2012 adalah trofi berwujud patung yang dirancang dan dibuat oleh Ismanto, seniman pahat yang aktif berkarya di desa-desa sekitar Borobudur. Selain trofi juga diberikan hadiah uang sebesar Rp. 25 juta. Penyerahan penghargaan dilakukan pada acara penutupan Borobudur Writers & Cultural Festival, di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta, 31 Oktober 2012. Penghargaan diserahkan oleh Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ sebagai Ketua Dewan Juri, didampingi perwakilan PT. Taman Wisata Candi Borobudur. Penghargaan diterima oleh Bapak Andang Suprihadi sebagai anak tertua almarhum SH Mintardja yang didampingi adik-adiknya.
Terima Kasih untuk Semua Pihak yang telah mengikuti acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2016 Sampai jumpa… twitter.com/i/web/status/78587…
RT @radiobuku: Penyerahan Sang Hyang Kamahayani Award | Closing Ceremony & Award Nite #BWCF2016 | Pendopo Agung Kedaton Ambarrukmo… https://t.co/aHA66hxmXe
RT @radiobuku: Closing Ceremony & Award Nite dibuka #BWCF2016 @InfoBwcf pic.twitter.com/i1cVEWW2mP
RT @radiobuku: Langit Kresna Hariadi mewakili organisasi profesi penulis Indonesia, bacakan deklarasi hasil musyawarah #BWCF2016… https://t.co/31ihuliFC8
RT @radiobuku: Pembicara keempat sesi "Erotisisme dalam Sastra Indonesia", Dr. Emanuel Subangun bahas dgn padat dari sudut Budaya… https://t.co/sg1JLqzGr6
Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) adalah sebuah festival tahunan yang diselenggarakan oleh Samana Foundation. Festival ini merupakan wahana berupa forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khazanah sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut...