Oleh: Arswendo Atmowiloto
Kebenaran disampaikan melalui cerita.
Juga kalau ingin menyangkalnya.
Kreativitas Pengarang dan Kreativitas Masyarakat.
Ruang kebenaran dalam seni adalah ruang yang diciptakan, diimajinasikan, diilhamkan, dan atau hasil proses kreatif—menciptakan sesuatu yang baru, dan atau memperbarui ciptaan lama. Secara khusus dalam sastra, atau cerita silat, kebenaran itu tidak hanya berupa data dan fakta semata. Melainkan tafsiran kembali, dan karenanya tidak berakhir dengan closed caption, tafsiran sudah ditutup. Tak ada tafsiran tunggal yang berlaku selamanya. Pada sastra silat, wahyu kreatif tidak berakhir, melainkan terus mengalir. Tidak hanya pada pengarangnya, sastrawannya, melainkan—dan ini yang kadang dilupakan, terutama pada pembaca atau penggemarnya. Dua proses kreatif sekaligus terjadi: baik ketika cerita itu diciptakan, dan kemudian ketika mekanisme dinamis terjadi dalam penggemar yang lebih dari sekadar membaca atau mendengar.
Ruang kebenarannya adalah sekaligus juga ruang kebebasan. Ini yang barang kali membedakan dengan sejarah—yang juga tidak sepenuhnya bebas nilai, dan tata nilai dan tata krama agama. Ruang kebebasan dalam sastra silat sangat dimungkin karena baik kejadian,baik lokasi waktu maupun lokasi tempat, berlangsung pada masa lampau yang tidak memetakan apa yang diperlukan sekarang ini.
(Ketika lulus dari SMA, di Solo, saya benar-benar penganggur yang sengsara. Tak bisa melanjutkan kuliah, tak diterima bekerja, tak punya sanak famili yang menampung, tak punya akses apa-apa, tak mempunyai kemampuan khusus pula. Solo baru dilanda banjir besar, situasi politik setelah tahun 1965 masih sebagai luka yang menganga. Bersama beberapa teman yang nasibnya sama, kami membuat komik. Saya kebagian membuat ceritanya. Salah satunya adalah komik silat, judulnya Klika Cendana. Saya ingat judulnya karena kedengarannya bagus, tentang wasiat yang dituliskan di kulit kayu. Cara kerja kolaborasi atau rame-rame ini masih berlangsung ketika menjadi redaktur mingguan lokal berbahasa Jawa, dan cerita silat itu dilanjutkan. Ada beberapa penulis – di Solo rasanya setiap orang bisa menjadi pengarang—yang bergantian menuliskan jalan cerita.
Kisah itu berhenti tragis, karena salah seorang penulisnya, Moch Nursjahid P—pengarang sastra Jawa terkenal dan produktif, telah menghasilkan novel dan kumpulan puisi, sebelum usia 20 tahun- menuliskan tokoh utama terpeleset potongan pohon tumbang dan jatuh ke jurang. Tidak berarti mati, tapi kami semua – empat penulis yang lain, kesal padanya. Dan membiarkan menulis sendiri lanjutannya. Ternyata tak dilakukan.)
Ruang Kebenaran Wangsit
Ruang Kebenaran dalam cerita silat, karenanya adalah ruang imajinatif, hasil pergumulan inspirasi, atau ilham, atau hasil lamunan, atau kita sebut dari wangsit, karena memang pesan berasal dari langit ada unsur gaib.
Tergantung sudut pandang dan subyektivitas penerima wangsit dan penafsirannya. Di sini proses kedaulatan pengarang berproses lagi dengan pengaminan dari para penggemar—mereka bukan lagi pembaca, melainkan pembenar. Seorang tokoh Gajah Mada, misalnya, bisa digambarkan gemuk atau kurus, berasal dari bagian mana pun di Jawa atau malah pulau lain atau negeri lain, kecilnya menghabiskan air susu lebih dari lima ibu susu, atau malah sudah berpantang sejak bayi, meninggal sengsara karena tua atau moksa, bisa berjalan di atas air atau membelah laut, semua bisa terjadi. Satu kisah tidak meniadakan kisah yang lain. Demikian juga tokoh utama kedua atau kedua ratus, yang tertulis dalam sejarah atau yang tidak. Apa lagi nama jurus-jurus silat yang dimainkan. Dan dengan demikian cerita silat bisa terus bersambung panjang, atau pendek, atau tak terselesaikan.
Gajah Mada, atau Kertanegara, atau Sultan Agung, memberi ruang imajinatif yang luar biasa dan sangat seksi untuk para pengarang sebagai mana keluarga dan anak turun Kubhilai Khan. Terutama karena data kesejarahan kehadiran beliau-beliau itu ada.
Bagaimana dengan sosok Nyi Roro Kidul atau bahkan Ratu Adil yang melegenda yang tak ada data sejarahnya. Jawabannya sama seksinya, sama menariknya, dan kemungkinan menghidupkan menjadi sama besarnya. Dalam cerita, dalam dongeng, dalam babad, yang sesungguhnya memberi makna kekosongan dan kebosanan sejarah, dan membuka ruang kebenaran baru disamping yang baku.
Kita membutuhkan kebenaran imajinatif yang mengakui sebagai imajinasi, dibandingkan kebenaran yang direkayasa, direkontruksikan oleh para penulis biografi. Kita membutuhkan kebenaran imajinatif, selama menjadi kesepakatan bersama dan merasa aman dan nyaman di dalam meyakini.
( Saya menulis Senopati Pamungkas di majalah Hai, 1974, bersamaan waktunya dengan menulis cerita seri lain seperti Imung, Kiki & Komplotannya, Keluarga Cemara, atau ulasan lain di berbagai rubrik. Sempat juga dikomikkan oleh Teguh Santosa, kemudian sekali diangkat ke panggung wayang orang. Sebagian pernah dimuat bersambung di harian Jayakarta, dengan judul Senopati Paminggir. Kemudian diterbitkan sebagai buku sebanyak 25 jilid, lalu model dua jilid, lalu model 5 jilid. Pernah dituliskan berkali-kali oleh beberapa penulis untuk skenario film. Sampai ada nama perguruan silat yang mengambil nama Perguruan Awan, dan mempelajari jurus dan pengerahan tenaga dalam dari situ. Dan Soewarjono, salah seorang kritikus pedas seni rupa, saat itu mempercayai dan membuktikan bisa mengerahkan “tenaga di bawah pusar yang berasal dari angin melalui lubang hidung dan ke ubun-ubun, turun lewat tulang belakang”, dan didemontrasikan dengan menjeblakkan pintu rumah saya di Perumnas Depok.
Padahal proses menulisnya biasa-biasa seperti menulis cerita yang lain dan menyenangkan dalam menciptakan nama-nama tokoh, nama jurus, atau jalannya pertarungan. Dari sinilah lahir nama yang sampai sekarang pun saya geli dan bangga tiap kali mengingatnya, Ratu Ayu Bawah Langit, gelaran sebagai ratu paling ayu di seluruh jagat. Sedemikian cantiknya dia ini, sehingga bayangan tubuhnya di tanah tetap cantik meskipun ia telah pergi . Nama sebenarnya Azeri Baijani- waktu itu belum dikenal nama tempat Azer Baijan, dan menggapai ilmu sakti, yaitu selalu awet muda . Pada usia tertentu: esok hari, umurnya justru berkurang satu hari. Dengan demikian ia selalu menjadi lebih muda. Jurusnya juga keren : bagai gerakan boneka kayu, atau juga gerakan Budha Wanita, Tahtagati.
Ini lebih menyenangkan dibandingkan nama jurus lain “Banjir Bandhang Segara Asat”, yang dalam pengertian sekarang ini tenaga tsunami )
Kebenaran dari Langit : Satelit
Lokasi waktu dalam cerita silat, selalu mengambil setting masa lampau, terutama masa masa kerajaan. Terutama sekali karena masing banyak ruang kosong yang perlu diisi, ditafsiran kembali. Pada awalnya, para empu, para penafsir adalah jabatan dengan legitimasi resmi, sebagai penerima dan penafsir wangsit. Begitulah kisah Joko Tingkir yang tengah bersila bisa meloncat mundur melewati kolam, tanpa kuda-kuda, saat Baginda lewat. Begitu juga sebutan untuk Baginda yang berkulit pethak, atau putih—karena sebelumnya tak pernah ada raja yang digambarkan berkulit putih. Otoritas yang sama dan tunggal mengisahkan masa kecil Djoko Tingkir dilahirkan, dibesarkan,dan kebesarannya memukul pecah kepala kerbau atau bersampan bambu ditopang 40 ekor buaya dalam tembang elok, Sigra Milir, sampai akhirnya menjadi raja—atau adipati.
Kini wangsit yang sama, datang dari langit, melalui satelit. Bedanya, informasi yang diberikan tidak hanya untuk pemilik otoritas saja, melainkan ke siapa saja, dalam waktu yang bersamaan. Pada saat yang sama siapa saja bisa menjadi penafsir.
Inilah dinamika yang memisahkan masa lampau dan masa sekarang ini—juga masa yang akan datang.
( Sebenarnya Senopati Pamungkas, ada seri lanjutan, berjudul Tembang Tanah Air, serta kisah sebelumnya, dalam judul Suksma Sejati. Dua-duanya diterbitkan penerbit berbeda, dan baru jilid ketujuh. Saya masih tergoda meneruskan, akan tapi tawaran yang bersifat cash & carry, menulis skenario yang honornya 20 kali lebih tinggi untuk jumlah halaman yang sama, lebih menentukan pembagian waktu. Saya malah menulis cerita silat—nyaris tanpa jurus, berjudul Dewa Tanah dan Dewi Air, pernah dibuat bersambung dan diserialkan di TVRI dengan gaya potehi, boneka kayu dari Cina. Juga mencuri waktu ngomel di tv dengan membuat novel dengan latar belakang keraton Pajang. Paling judulnya sudah ada, Kakawin Kawula.)
Kebutuhan Kebenaran Kreatif
Keberadaan sastra silat adalah kukuhnya kedaulatan akan masih berlangsungnya wangsit dari langit, sekaligus kebebasan menafsirkan dalam penyampaian. Kedaulatan dan kebebasan yang mendasari nilai-nilai seni, sebagai pendekatan atas kehidupan kita di dunia.
Dalam sastra silatlah berbagai keajaiban, mukjizat, masih berlangsung . Dan inilah dulu ruang yang dipergunakan dengan leluasa di mana kebenaran diteruskan dari generasi ke generasi, mengenai kebenaran iman, perjuangan mencintai tanah air, atau hal yang baik dan yang jahat, surga neraka, bahagia dan derita, kehidupan dan kematian—atau bangkan urip jroning pati, pati jroning urip, hidup dalam kematian, mati dalam kehidupan, atau juga yang sangat dikenal mengenai penyatuan manusia dengan Sang Pencipta, sumber segala wangsit dalam manunggaling kawula Gusti. Sebagai kisah dalam Ramayana atau Mahabharata, atau yang dikenal dengan dewa-dewa dalam mitologi Yunani, atau yang dikisahkan sebagai kisah para nabi, kisah Kancil—dengan mencuri ketimun, atau memperdaya buaya, gajah, anjing, tapi kalah oleh siput.
Dalam sastra silatlah, segala ajaran, segala anjuran atau larangan, segala nilai budi pekerti, moralitas, kepahlawanan, persahabatan, tata nilai dan tata krama hidup dengan sesama dan Sang Pencipta berlangsung dengan menghibur, menyenangkan, tanpa paksaan monopoli kebenaran. Dan sesungguhnya ke benaran wangsit ini yang kita butuhkan sekarang ini, sebagaimana nenek moyang kita memerlukan kebenaran wangsit pada zamannya, yang telah terhenti.
(Bukankah hanya dalam cerita silat kita bisa mendengarkan “tepukan satu tangan”, atau merasakan “pukulan jarak jauh”, sampai pembebasan diri dengan “menggambar kue mengilangkan lapar?” Semua berlangsung dengan tanpa kemrungsung?
Bukankah waktu kecul kita terhibur dan terjawab kenapa ada ayam tak memiliki brutu, atau ekor, kenapa ada pisang dengan seribu biji, atau siapa yang member warna merah pada cabe? Bukankah kisah keperawanan Kunthi, ibu Pandawa tetap terjaga karena anaknya, Karno lahir dari telinga? Atau keperawanan Sinta diuji dengan terjun ke bara api? Bukankah, lebih hebat dari semua itu, Nyi Roro Kidul yang tetap perawan kembali sehabis bersanggama?)
Kita membutuhkan kebenaran kreatif melalui wangsit dalam kehidupan kita, karena kebenaran bisa diterjemahkan dengan berbagai cara, termasuk cara yang mengasyikan tanpa peniadaan. Juga kalau ingin menyangkalnya, atau dalam bahasa aman menyempurnakan.
Dan sesungguhnyalah, para sastrawan silat sekarang ini, pada zaman ini meneruskan tradisi para empu yang dulu menuliskan kisah wayang, menuliskan kisah mithologi Yunani dengan segala dewa dan manusia, melanjutkan kisah para nabi, atau kisah Kancil yang membesarkan dan memberi tempat rakyat kecil.
Para sastrawan silat adalah pewaris sah menuliskan kebenaran dan mempertanyakan.
***
*) Catatan pengantar untuk Borobudur Writers’ and Cultural Festival 2012, 29-31 Oktober 2012 di Magelang.
LAMPIRAN
KOMIK SILAT: MENGGAMBAR KUE MENGHILANGKAN LAPAR
Oleh : Arswendo Atmowiloto
Betapa sesungguhnya kita membutuhkan kehadiran seorang jago silat. Jago silat adalah pendekar yang tak gentar menghadapi apa atau siapa pun, karena ia di pihak yang benar.
Dalam urusan resmi yang terjaring birokrasi, jago silat bisa bertindak cepat tanpa pretensi. Prestasinya dicapai dengan taruhan apa saja — termasuk mengorbankan badan, kekasih, istri, saudara seperguruan atau suhunya sendiri. Juga resiko apa pun bakal ditempuh termasuk bertapa lama, menyiksa diri. Semuanya halal demi tujuan mulia. Jago silat memang hebat. Ikatan mereka bukan suku, agama, darah keturunan, duit, korp, tetapi lebih primodial lagi. Ikatan mereka dalah pihak baik, pihak yang benar, golongan putih. Lawan mereka adalah pihak buruk, pihak salah, golongan hitam.
Jago silat bisa ragu, tapi selalu tahu mana yang dipilih. Dan tak pernah gagal melaksanakan tugasnya. Dan selama hidup di dunia, tugas itu selalu ada.
Betapa besar sumbangan Komik Silat mengisi kekosongan akan langkanya jago silat seperti itu. Dan lebih istimewa lagi, ternyata jago-jago rimba hijau yang terus berkelana dalam dunia kangouw ini ternyata dari kelas sosial yang sederajat dan semartabat dengan rakyat jelata. Mereka bukan anggota tentara kerajaan tertentu — seperti kita umpamakan ABRI sekarang ini — bukan dari kelompok punggawa — seperti kita umpamakan Korpri sekarang ini — bukan pula jenis samurai, yang mengabdi kepada atasan tertentu. Jago silat lebih mirip ronin, pendekar yang tidak menjadi kaki tangan cukong atau sekedar menjalankan perintah Ong (raja).
Ditilik dari segi ini, jago silat bisa dibedakan jenisnya dengan pahlawan dalam jenis Komik Sejarah — di mana ikatan dengan kesetiaan dan kebesaran seorang Raja mendapat porsi utama.
Tulisan ini hanya membicarakan mengenai jago Silat. Sedang mengenai Komik Sejarah dalam kesempatan lain.
Sie Jin Kui
Ingatan kita kepada jenis Komik Silat, dimulai dengan tampilnya tokoh Sie Jien Kui dalam serial yang diawali pada kisah Sie Jin Kui Ceng Tang yang dimuat di mingguan Star Weekly ( No. 353, 4 Oktober 1952 ). Digambar dengan sugestif impresif, dalam goresan yang kuat oleh Siauw Tik Kwie, yang kemudian kita kenal sebagai Oto Suastika, berdasarkan cerita yang disusun kembali oleh Oie Kim Tiang, atau nama terkenalnya OKT.
Sebelum lebih jauh, harap dimaafkan mengenai ejaan penulisan yang digunakan di sini, khususnya untuk nama-nama Cina. Agak susah untuk membuat konsisten karena dari sumber yang berbeda, penulisannya pun berbeda. Seperti nama OKT sendiri, dituliskan sebagai Oei Kim Tiang, tetapi juga dituliskan Oei Kiem Tia, ( Kompas, 1 Februari 1981 ). Atau Sie Jin Kui sendiri pada buku terbitan lain dituliskan sebagai Sie Djin Kwie.
Marilah kita lupakan sejenak kesulitan ini. Sie Jin Kui saat itu menggantikan komik serial Tarzan. Star Weekly dalam hal ini memang banyak memuat komik, baik yang asli dan lebih banyak yang terjemahan.
Kisah Sie Jin Kui adalah kisah klasik. Jauh sebelum dikomikkan sudah difilmkan, bahkan sudah disiarkan sebagai sandiwara, atau sandiwara radio, bahkan sudah terbit dalam bahasa Jawa sekitar tahun 30-an. ( Star Weekly, 20 September 1952 ). Dan Tik Wie menyelesaikan dua episode, yang kedua adalah Sie Jin Kui Ceng See dalam 700 halaman, atau sekitar pemuatan 7 tahun — karena ada yang dinuat dua halaman. Suatu rekor ketahanan yang luar biasa waktu itu. Yang lebih luar biasa lagi ialah pengkomikkan yang goresannya konsisten. Padahal kisah itu berasal dari masa kanak-kanak Sie Jin Kui sampai dewasa, menyerbu ke timur ( Tang ), negeri Ko-lee-kok yang kita kenal sekarang dengan nama Korea. Sampai dengan ketika menaklukkan daerah barat (See) negeri Hap-bie-kok (See-Liang ), ketika Sie Jin Kui sudah mempunyai putra yang menjadi peran utama dalam lakon kedua, yaitu Sie Teng San, dan putrinya Sie Kim Lian.
Memang dalam soal panjangnya, Tik Wei mendapat saingannya yang “lebih gila” dengan Komik Silat sekarang ini, akan tetapi dari segi konsistensi dan ketekunan, agaknya rekornya masih bertahan.
Sin Tiauw Hiap Lu
Sisi lain dari komik Sie Jin Kui adalah berhasil membuktikan bahwa kisah itu cukup berakar dibandingkan lelakon asmara ala Sam Pek Eng Tay. Dari segi kepahlawanan Sie Jin Kui, yang makannya banyak sekali, bisa makan nasi segantang dan tenaganya luar biasa besar ini, lebih konkret dan langsung sebagai tokoh teladan. Terutama karena kerasnya penekanan untuk lebih setia kepada raja atau negeri (tiong) dibandingkan setia kepada orangtua (hauw). Konflik semacam ini mungkin kurang terasakan sekarang — di mana dua kepentingan bisa menjadi satu tanpa saling merugikan — meskipun kalau dikaji lebih jauh konflik semacam ini tak ada selesainya. Misalkan saja, diterjemahkan dalam bahasa modern sekarang ini. Konflik sebagai pengabdi negara dengan menjadi pegawai yang baik, atau korup demi kepentingan diri sendiri atau alasan keluarga.
Makna yang mendalam dari jenis silat, terutama adalah penekanan nilai-nilai semacam ini. Di mana masing-masing dibedakan dengan warna jelas, hitam atau putih.
Perbedaan jelas ini tetap tak terselimuti, malah makin kokoh keberadaannya dibalut dengan jurus-jurus maut yang mencengangkan, senjata rahasia yang ganjil, pusaka keramat, gua tempat bersemedi yang angker, jenis-jenis binatang, lekuk-liku asmara yang mencengkam dan memilukan. Di sinilah kehebatannya cerita silat. Di sinilah napas maraton pengarang silat, atau sastrawan silat atau komikus silat yang jarang ditandingi.
Khusus untuk pengarang cerita silat, nafas maraton ini luar biasa mengagumkan. Secara kuantitas pengarang-pengarang lain bisa iri. Secara kualitas, tak bisa diremehkan begitu saja. Bahkan beberapa nama, rasanya perlu diperhitungkan kembali posisinya — bukan sekedar karena berhasil menghibur. Daya pikat, kelihaian bercerita bagai jurus-jurus yang dimainkan, perwatakan yang kokoh, bagai tokoh-tokoh silatnya, dalam banyak hal memenuhi tuntutan yang biasa diajukan untuk sebuah karya sastra.
Kita di sini mengenal dua nama pengarang silat yang besar, yaitu Cin Yung dan Liang I-Shen. Berkat jasa penterjemahkan OKT dan Boe Beng Cu, dan Gan K.L. dengan bahasa membetot sukma dan membikin keder serta kemekmek, tak bisa lain sebagai pembaca akan menjublak karenanya. Chin Yung kita kenal dengan karya-karyanya antara lain Memanah burung Rajawali (Sia Tiauw Eng Hiong), Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar ( Sin Tiauw Hiap Lu ), Kisah Membunuh Naga (To Liong To), Pendekar-pendekar Negeri Tayli ( Thian Liong Pat Poh ), serta Pek Hiat Kian atau disebut juga Kim Coa Kiam. Chin Yung benar-benar maestro dalam bidangnya.
Kalau Chin Yung cenderung setiap episode dengan satu atau dua tokoh utama, Liang I Shen dengan banyak tokoh yang sama-sama menonjol. Beberapa judul karyanya yang diterjemahkan antara lain, Tiga Dara Pendekar, Busur Kemala, Thian San Cit Kian. Ini hanya untuk menyebut beberapa judul yang diingat saja. Setiap judul setiap episode kalau kebetulan tokoh yang ada di satu judul bersambung ke judul lain, terdiri dari puluhan jilid. Sampai sekarang Sin Tiauw Hiap Lu masih dicetak ulang.
Kalau dulu “hanya” terdiri dari 20 jilid, bentuk yang tipis sekarang ini hampir mencapai jilid ke 60. Untuk perbandingan saja. To Liong To yang difilmkan oleh TV Hongkong, untuk bagian pertama saja — separuh episode — menghabiskan masa putar 18 jam. Kita tahu seri yang lain banyak yang mencapai 25 kaset, dengan masa putar sekitar 50 jam.
Daya tahan maraton ini juga terbukti dalam karya S.H. Mintardjo dengan judul-judul Naga Sasra Sabuk Inten, Api di Bukit Menoreh atau yang sekarang belum selesai Bunga di Batu Karang. Atau pada karya Herman Pratikto, Bende Mataram, atau yang kurang “dikenal”, S. Djatilaksana, Gajah Kencana, Manggala Majapahit mencapai jilid ke 50. Ini semua baru tersebutkan per episode. Padahal setiap episode bisa terus berlanjut dan, pengarang ini bukan hanya menciptakan itu saja.
Ini semua disebutkan karena biasanya juga terasakan dalam Komik Silat. Mulai daya tahan komikus, sampai jurus, libatan peristiwa, serta urutan si ini anak si itu murid si itu guru si anu. Betapa mengasyikkan!
Bias ini sedikit banyak memang karena pengaruh yang besar, yang bukan tidak mungkin memperkaya komikus silat kita, betapa tidak kalau tokoh Yo Ko bisa dihapal nama jurus-jurus seperti “Menggambar Kue, Menghilangkan Lapar” (Hua Phia Ciong Kie) atau “Mengaduk Lumpur Membawa Air” (Toh Nie Tay Sie), yang legendaris itu.
Dalam bentuk yang lain, karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo, raja cerita silat dikomikkan Anda Sjailendra, Pendekar Bodoh Menuntut Balas ( Jakarta, UP. Sastra Kumala, 1976, 576 hal ). Ia menunjukkan satu judul saja.
Bias ini terutama tema utama mengenai balas dendam. Mari kita tengok.
Si Buta dari Gua Hantu
Pembalasan dendam sebagai letikan api yang terus menyalakan semangat petualangan demi petualangan, kita temukan tipenya pada serial Si Buta dari Gua Hantu, karya Ganes TH. Si Buta kita ambil sebagai contoh karena bom Komik Silat meledak dari sini. Menjalar kepada epigon-epigon, termasuk dalam penokohan dan kostum. Sehingga sejak tahun 1967, awal kelahiran Si Buta, tetironnya kelewat banyak. Si Buta merupakan tonggak emas dari karya Ganes TH. Malah seakan namanya menjadi menunggal dengan jenis ini saja. Padahal Ganes TH sebelumnya mulai dengan jenis yang lain, dan masih menciptakan tokoh yang lain. Tetapi agaknya tak pernah bisa menyaingi Si Buta, yang sejak kehadirannya terus bergema ke gedung bioskop, stiker, gambar slebor becak, bahkan sampai ke tato kulit.
Kisahnya bermula dari dendam. Badra Mandrawata, seorang petani remaja yang gagah, sedang melamunkan hari baik pernikahannya dengan Marni Dewianti, ketika lewat seorang buta yang disebut sebagai Si Mata Malaekat. Tokoh yang kelewat telengas sekaligus juga kelewat sakti. Mata Malaekat ini suatu siang mengambil makanan Pak Ganda Lelajang, ayah Marni dengan cara kurang ajar. Tersinggung dengan sikap Mata Malaekat, Pak Ganda menyerang dengan cangkulnya. Tapi hanya dengan sekali gebrak, Pak Ganda rubuh bermandikan darah. Begitu juga Marni.
Barda bersama saudara seperguruan dari Perguruan Elang Putih mencoba membalas dendam. Paksi Sakti Indrawata, ketua perguruan dan sekaligus ayah Barda, mengajak duel Mata Malaekat.
Tapi ia sendiri kalah, mati.
Mulailah usaha klasik. Barda mencari ilmu untuk membalas dendam. Ilmu membedakan suara yang tak tergantung mata. Menemukan kunci ini, Barda mengiris melintang matanya dengan golok. Ternyata dalam keadaan buta, ia menjadi awas. Inilah awal pemecahan teori mengalahkan Mata Malaekat. “Di atas gunung masih ada gunung, di atasnya lagi ada awan. Di atas awan masih ada awan.” Di atas Mata Malaekat, berdirilah Si Buta yang karena ilmunya di dapat dari Gua Hantu, ia bergelar Si Buta dari Gua Hantu.
Mata Malaekat bisa terbunuh. Dendam terlampias sudah. Tapi kisah tak berakhir. Justru baru mulai. Sejak itu Si Buta tak pernah istirahat. Bahkan kalau permulaannya setiap episode bisa selesai dalam dua jilid, serial berikutnya makin panjang.
Setelah sepuluh jilid pertama 364 halaman, muncul Sorga yang Hilang, 506 halaman, Prahara di Donggala, 633 hal, Perjalanan ke Neraka, 433 halaman. Neraka ternyata bukan akhir perjalanannya. Dengan penerbit UP Rosita Jakarta, masih muncul lagi Kabut Tinombala, Tragedi Larantuka, dan sekarang ini Pengantin Kelana. Pada Ganes TH, ada asal-muasal kenapa si Mata Malaekat ganas. Ia membalas dendam karena ejak kecil diejek sebagai lunta, menderita dan susah.
Kalau periode pembuatan Si Buta dari tahun 1967 masih terus berkelanjutan dianggap panjang, ternyata banyak sekali jago silat yang bersamaan – untuk tidak mengatakan mengikuti – jejaknya. Djair misalnya. Komikus ini menciptakan serial Jaka Sembung alias Parmin dalam 21 episode. Semua ini dikerjakan dari Januari 1968 hingga Oktober 1977. Dan ini baru awal seri berikutnya yaitu serial Malaekat Bayangan. Salah satu contohnya dari segi serial ini ialah episode Jurus Belut Putih ( Jakarta, UP Rosita 78, 768 hal ), yang kemudian bersambung lagi pada episode Jurus Kelelawar. Di samping itu lahir pula “cucu serial” Si Tolol, seperti pada Lembah Putri Ular dari penerbit yang sama, tahun 1979, 720 hal.
Di sini, setelah dendam dan petualangan, terselip pula masalah perlawanan dengan Kumpeni. Dalam hal ini Djair nampak sangat leluasa mempergunakan bahan. Bahkan mungkin terlalu leluasa seperti dalam Wali Kesepuluh ( 1979, 720 hal ) yang merupakan seri terakhir dari serial Djaka Sembung. Terlalu leluasa karena dalam episode ini Djaka Sembung sanggup mengalahkan Sultan Agung dalam duel satu lawan satu. Atau juga pada Lembah Putri Ular di mana adegan telanjang – termasuk dalam sampul – berada di luar batas ketentuan sensor karena memperlihatkan puting dada. Ini agak disayangkan. Bukan karena memang kebanyakan Komik Silat mempunyai peluang terbesar dalam meramu menu semacam ini dan dipraktekkan oleh banyak komikus, tetapi karena tanpa itu pun sebenarnya Djair tetap menarik.
Banyak judul lain dari serial lain yang melibatkan kehadiran Kumpeni. Tetapi memasalahkan dari segi bukan sebagai wajah penjajah thok, kita jumpai pada komik Suzane karya Wid NS ( Jakarta, Prasidha, 1970, 264 hal ). Suzane, si rambut pirang dan mata biru berdarah Belanda, dijadikan gundik oleh Harja Marigi karena balas dendam pula! Balas dendam karena selama ini gadis pribumi yang selalu jadi gundik Belanda. Harja Marigi, yang kemudian wajahnya hancur terbakar dan berubah menjadi buruk bernama Boko, yang bermula membalas dendam ini ternyata lama-lama jatuh cinta kepada Suzane. Demikian juga Suzane, meskipun sebenarnya ia diumpamakan oleh Karel.
Wid NS adalah komikus yang perlu dicatat. Goresan dan rangkuman cerita sangat menarik.
Masih dengan kaitan Kumpeni, tapi juga disinggung masalah agama. Pada karya Suryana, Goa Bukit Arwah ( Jakarta, UP Rosita, 1980, 480 hal ), yang merupakan episode dari tokoh Mat Cinyu, yang setidaknya muncul dalam 8 episode. Dalam episode itu, Mat Cinyu bertemu dengan Kian Santang, putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran yang bisa menembus ruang dan waktu. Ini termasuk Bumbu Gaib yang akan diuraikan di bawah. Kepada Akhmad Cinyu, Kian Santang mengatakan bahwa ia tidak bertujuan menghancurkan kepercayaan lama dengan membawa Islam. Kata Kian Santang, semua tujuannya ke Tuhan yang Maha Esa. “Tidak mempertajam perbedaan agama. Mari kita bersatu dan saling bertoleransi.” (hal. 104 )
Tapi mari kita kembali dulu ke soal balas dendam ini. Kadang sama sekali tidak sebagai bumbu yang mengikat. Shindu berdasar cerita Henky, Hancurnya Istana Iblis ( Jakarta, Rosita Agensy, 1980, 562 hal ) dalam satu episode sepanjang itu sekedar menjelaskan pembalasan dendam Mawar, oleh gacoannya Nilam Sari. Serial ini sambungan dari Kutukan Ratu Iblis dan masih berlanjut ke Iblis Penyebar Maut.
Fan Sardy dalam Iblis Naga Merah ( Jakarta UP Rosita, 1980, 551 hal ). Juga mengawali dari perlawanan Rangga yang ayahnya terbunuh. Kadang juga perlawanan ini tanpa struktur cerita yang kokoh dan asal gedebak-gedebuk saja seperti pada karya Aris, Naga Langit ( Jakarta, Rosita 1979, 579 hal ), Camar Hitam dari Laut Selatan ( 1979, 576 hal ) yang berkelanjutan pada Telapak Dewa. Tokohnya ketara sekali dapat pengaruh dari Yo Ko tokoh legendaris dari Sin Tiauw Hiap Lu. Mudah ketahuan karena ciri khasnya lengannya yang buntung dan binatang rajawali sebagai pengenal identitas.
Bumbu Gaib
Sebagai bentuk Komik Silat juga menerima bumbu masalah gaib. Baik gaib yang masih nalar, maupun gaib yang benar-benar gaib dan tak perlu dinalarkan.
Gaib yang nalar, bisa diambilkan contoh kemampuan Si Buta untuk duel di atas ikan hiu, dalam Prahara di Donggala sebagai contoh.
Gaib yang memang gaib bisa dilihat pada karya Abuj Ravana, Telapak Naga Seribu (Jakarta, San Agency, 1976, 432 hal). Ki Agung Pati bisa hidup lagi karena mempunyai ilmu “misah raga, misah nyawa” (hal. 71), bisa berobah menjadi gorila yang memukul Teruna, tokoh utama, hingga muntah darah (hal. 101) padahal hanya untuk menguji. Kegaiban Si Muka Setan lebih hebat lagi. Tubuhnya sudah terpotong, begitu juga kepala dan kaki, tapi bisa menyambung sendiri (hal 329). Episode ini berlanjut pada Pedang Sinar Merah Putih (1977, 288 hal). Tokoh Kebo Ireng dengan sekali hentakan kaki tanah bisa membuka dan lawannya kecemplung ke dalamnya dan dengan gedrukannya, tanah itu bisa menutup kembali (hal. 6). Sorot mata tokoh yang sama ini bisa melelehkan pedang seperti lilin saja (hal. 15) atau selembar rambut dicabut jadi tombak besi (hal. 20). Si Raja Racun yang super jahat juga super sakti. Bisa tiwikrama jadi raksasa bertanduk yang sedemikian tingginya hingga manusia bisa digenggam. Kambratnya Si Muka Setan juga gaib. Dari tangannya bisa keluar cacing, bisa mengubah diri jadi pendeta (hal. 236), bisa menyihir Sanggabuana menjadi babi – tapi masih bisa ngomong dan komunikasi seperti manusia biasa, ini juga “super gaib” – dan jenis gaib lain lagi.
Juga pada karya Usyah Marantika, Dendam Ratu Ular Emas (Jakarta, Pancar Kumala, 1979, 620 hal) tokoh utama yang bernama Bocah Super Sakti yang pakai kopiah lorek-lorek bisa terbang. Dalam soal balas dendam juga, ternyata Sapta dewi, lawannya, bisa berubah jadi ular. Gaib yang mencoba dirasionalisasikan pada karya You Henry, Jeritan Anjing Malam (Jakarta, UP Jaya, 1979 432 hal). Dalam kisah yang berlanjut ke Anjing-anjing Segara Wedi ini, tokoh yang berbuat jahat karena kemasukkan iblis. Seorang suami membunuh istri, seorang istri bisa disetubuhi iblis, karena pengaruh di luar kesadarannya. Agak utuh cerita ini karena ternyata di iblis ini berbuat begitu karena cintanya tak sampai.
Hampir sama dengan di atas ialah karya Judah Noor, Ki Jabang Pati (Jakarta UP Mitra, 1977, 539 hal). Mariam yang cintanya pada kekasihnya dihalangi ayah tiri – dan sang ayah tiri justru berusaha memperkosa – ditolong oleh Raja Siluman. Menjadi dasar cerita adalah usaha sang pacar membebaskan pengaruh siluman. Kisah ini menarik, tapi sepertinya belum selesai, ketika dihalaman belakang tertulis kata Tamat. Sayang sekali, sebetulnya Judah Noor mempunyai kekuatan menggambar yang bagus.
Karya komikus Man, Raksasa (Jakarta, UP Rosita 1977, 768 hal) memperlihatkan adegan Gajah Dengkul tidak mati walau dipanah lehernya. Serial yang berlanjut dalam Memburu Macan Kuku Seribu, merupakan sekian episode dari jumlah episode yang dilahirkan Man. Tercatat tidak kurang dari 17 episode yang terdiri dari berbagai jilid.
Teguh Santosa pada Cokro Manggilingan (tanpa nama penerbit, bisa diduga San Agency, 1979, 720 hal.) menggambarkan suasana gaib di alam Cokro Manggilingan. Alam tanpa ruang tanpa waktu tanpa dimensi, dengan tokoh manusia gaib atau sekedar benda merah darah yang memakan apa saja. Eksploitasi habis-habisan dan “liar”.
Masih banyak judul lain, kisah ini sendiri bersambung ke Kidung Pralaya Cinde Pranjangan – episode lain dari komikusnya yang sama atau komikus yang lain.
Barangkali contoh-contoh yang dikemukakan kelewat banyak, akan tetapi sesungguhnya masih serba sedikit dibandingkan komik yang beredar.
Bumbu Asmara
Dalam soal balas dendam, seperti sudah disebutkan di atas, tidak sedikit yang berawal dari kisah asmara. Asmara tak sampai, disatroni lawan jahat atau terpaksa hidup dengan bukan pilihannya.
Meskipun memang bukan bumbu satu-satunya, tetapi jenis Komik Silat leluasa sekali kemungkinan menghanyutkan lamunan pembacanya. Alasannya memang leluasa pula halamannya.
Hans Jaladara, dalam Pedang Naga Berlian (Jakarta UP Prasidha, 1979, 528 hal) menggarap bumbu ini dengan manis dan mengasyikkan. Ditopang dengan ketekunan dan kerapian goresannya – tidak menjadi sembrono seperti banyak jenis silat yang lain – Hans pantas berada dalam daftar komikus terkemuka seperti Jan Mintaraga, Ganes TH maupun Teguh Santosa. Ini juga membuktikan bahwa penyamarataan mutu komik secara keseluruhan sering meleset. Ternyata masih mungkin menemukan butiran berharga dari lautan produk yang kira-kira sejenis.
Hans memang berada dalam jalur balas dendam. Dimulai dengan Kido yang berupaya membalas dendam kepada Indrasakti — soal orang tua tentu saja. Indrasakti ini mempunyai putri bernama Seruni. Libatan asmara membelit kepada si pembalas dendam. Konflik antara kesetiaan membalas dendam dan memenuhi tuntutan asmara, dengan manis diungkapkan pada muara yang lain. Lewat libatan cerita memikat Seruni ini ternyata saudara kandung sendiri. Dramatisasi asmara ini juga ada pada karya Har, Bahala Murka (Jakarta, UP Sastra Kumala, 1978, 864 hal). Lanjutan dari Serigala Iblis Betina dan akan berlanjut ke episode Penghuni Gua Rante ini memperlihatkan adegan Rawani, Si Serigala Iblis Betina menangis karena karena ditampar oleh Gota. Adegan pendekar bisa menangis — walau wanita — agak langka. Seolah para pendekar ini tak mudah terharu dan bisa mengontrol emosi sampai tingkat pari purna. Pasal Rawani tidak bisa melayani cinta Gota, karena cinta Rawani telah terlanjur diserahkan kepada pilihannya Sutomo dan sudah membuahkan dua putra.
Bumbu Telanjang
Yang selalu terkait dengan adegan asmara ialah adanya perkosaan. Entah kenapa memperkosa dari dulu sampai sekarang masih merupakan jalan untuk menunjukkan keperkasaan seorang lelaki — dari golongan hitam.
Nawangsih dalam komik Jan Mintaraga, Rajawali dari Utara (tidak bisa ditemukan nama penerbitnya, ini tidak aneh memang, 1980, 768 hal.) mempunyai ilmu yang harus dilakukan tanpa busana. Hanya pada Jan dan Teguh, adegan erotis semacam ini tetap terjaga “kepornoannya”. Artinya masih dalam batas-batas sebagai bumbu dan bukan menu. Ganes TH sangat jarang sekali menampilkan adegan beginian. Lagian goresannya lebih sugestif dan bukan berdasarkan rumusan anatomi yang umum, sehingga tidak terlalu “merangsang”.
Bumbu Salam
Media komik lebih luwes dalam mengkomunikasikan ide-ide garapan. Bentuk penyampaian bisa lebih santai, dibandingkan dengan kalimat terampil — baik mengenai isi cerita sendiri atau penjelasan kepada pembacanya.
Mengenai isi, pada karya Kelana, Si Penggali Kubur (Jakarta, UP Sastra Kumala, 1979, 573 hal.) sempat membuat dialog-dialog yang lucu sebagai selingan. Misalnya mengenai tokoh utama Si Penggali Kubur sendiri, ada yang bertanya, siapa tokoh misterius itu? Apa bukan Penggali Kubur lagunya Bimbo itu?” Yang lain menjawab bukan “Itu mah orang Kalibata” (hal 16).
Tentu saja zaman terjadinya peristiwa itu belum ada idiom Bimbo. Juga pada adegan ketika Jatmiko harus membuka totokan jalan darah seorang wanita. Tokohnya yang harus dibuka jalan darahnya itu di dada sebelah kiri. Jatmiko melakukan juga sambil menutup mata, tetapi dalam gambar yang dibayangkan adalah Indomilk. Juga dari Kelana, Pendekar Mabuk (1980, 576 hal.) ada kolom untuk menjawab surat dari penggemar. Komikus Kelana memperlihatkan potensi yang kuat, sayang biasanya hanya terhenti pada jilid-jilid permulaan saja. Seterusnya seperti diburu waktu.
Surat-surat jawaban, titipan salam juga bisa dijumpai pada karya-karya Man, Djair dan yang lain. Di tengah korban banjir dan pembunuhan besar-besaran, surat-surat dan titipan salam semacam ini merupakan ventilasi yang menyegarkan. Barangkali malah bisa mengukuhkan kekhasan bentuk komik dibanding media yang lain.
Jilid Pendek
Komik Silat yang dibicarakan memang umumnya terdiri dari sekian episode yang tak bisa diramalkan, dan setiap episodnya terdiri dari berbagai jilid. Ini merupakan perkembangan yang kemudian. Karena s ebelumnya, seperti Si Buta sendiri, hanya terdiri dari dua jilid. Dan judulnya hanya Si Buta dari Gua Hantu. Jejak yang sama kita temui pada karya A. Tatang S. Si Ronda (Jakarta, Bina Karya, 1968, 60 hal), atau Rim, Ider Alam dalam Hancurnya Gerombolan Tengkorak Putih (Bandung, Andi Djaja, 1968, 60 hal) atau komik-komik lain yang terbit sekitar tahun itu. Menarik apa yang dituliskan Oerip komikus kawakan dalam Dendam Pati Si Petualang dari Leuwi Sang Hiang (Bandung, Karya Seni, 1968, 60 hal). Pada akhirnya komiknya. Oerip, memang masih memancarkan masa-masa jayanya seperti ketika memulai bersama angkatan S. Ardisoma dan RA Kosasih. Motivasi untuk melahirkan karya yang baik — sesuai tuntutan hatinya kesenimannya dan bukan tuntutan komersial — tergores dalam garis-garis. Malah pada adegan hujan — di bumi tropis ini ternyata hujan juga sering terlewatkan dalam adegan — gerimis itu digambar nyaris sempurna. Oerip menuliskan di halaman terakhir : “Kisah mereka kuhabisi sampai di sini, kalau ada waktu kisah mereka akan kita jumpai lagi.”
“Ada waktu lagi”, dengan bahasa lain adalah kalau pasaran komik tetap berjalan seperti biasa. Kalau ada pembeli. Dan kenyataan ekonomi pasar inilah yang menentukan kelahiran dan perkembangan komik Indonesia.
Dalam jilid pendek ini ada pula jenis silat Jepang, termasuk nama tokoh pelaku dan kejadiannya. Di antaranya karya WHTS, Gadis Sakti, dan Ananda, Pembalasan. Namun tidak ada perbedaan khas dengan Komik Silat biasa. Malahan masalah yang digarap menjadi asing.
Pinto Minta Kuat
Komik Silat ternyata melibatkan banyak komikus. Bahkan rasanya, mereka yang masih berkarya sekarang ini tak bisa membebaskan diri dari Komik Silat, termasuk RA Kosasih, Kala Hitam (Jakarta, Lokajaya 1967, 956 hal). Tak apa. Komik Silat mempunyai keunggulan dan kelemahan yang sama. Pada akhirnya terpulang kepada masing-masing komikusnya.
Namun perlu diakui keleluasaan jago-jago silat mempunyai ruang gerak yang tak terbatas. Ibaratnya bisa tembus ruang dan waktu. Selama masih ada kejahatan dan masih ada kebaikan, selama itu pula masih ada jago silat.
Seperti juga dalam wayang. Persamaan ini juga terbukti banyaknya nama-nama jago silat yang mirip atau mengarah ke arah wayang. Maka dalam karya Jan Mintaraga, Rahasia Pondok Setan (Jakarta, Sastra 1979, 759 hal) memakai nama-nama tokoh wayang seperti Ekalaya, Palguna, dan Trijata.
Seperti juga dalam ceriat koboi. Persamaan tentang hero ini terbukti jelas pada film-film. Dengan ilustrasi musik irama Country, suasananya jadi persis sekali, seperti Fury of Shaolin dalam film misalnya.
Seperti juga jago-jago pemuas kelaparan kita dalam model Superman, Tarzan, Flash Gordon, Rip Kirby yang bahkan ketika komikusnya meninggal masih bisa dilanjutkan oleh komikus yang lain.
Barangkali dalam soal petualang dan pembalasan dendam ini hanya berakhir pada karya Taguan Hardjo, Si Pinto Minta Kuat. Komik ini belum dibukukan tapi pernah dimuat bersambung. Pinto, mengawali petualangannya untuk membalas dendam kematian ayahnya. Si Pinto juga berguru dan jadi tambah heran malahan : kenapa jago silat bisa main dal-del dalam membunuh orang. (Perlu ditambahkan di sini bahwa Taguan jarang sekali membunuh tokoh jahatnya. Bahkan komiknya yang “berdarah”, Komik Silat, hanya satu judul yaitu Mati Kau Tamaksa ). Si Pinto akhirnya mempunyai kekuatan lebih. Jadi kampiun. Tapi tetap tak bisa menemukan siapa pembunuh ayahnya. Ketika pulang ke rumah, sang Ibu bercerita. Bahwa Ibu inilah pembunuh ayah Si Pinto. Alasannya Ayah Pinto main perempuan. Dan Ibu tidak membunuh dengan jurus aneh-aneh, melempar kepala Ayah Pinto dengan “uleg-uleg”, penumbuk sambal.
Bagus, kocak dan khas Taguan. Mudah-mudahan tetap khasnya dan tidak diikuti komikus lain menghentikan “balas dendam” tadi.
Menggambar Kue
Ada bagian-bagian yang tetap membanggakan dalam Komik Silat. Jago silat yang maha pandai itu tidak setelengas yang dikhawatirkan. Bahwa musuh harus dimusnahkan memang iya, tapi pilihan itu disodorkan kepada penjahatnya sendiri. Seperti kata Si Buta dalam Perjalanan Ke Neraka, ketika menghadapi lawannya. “Aku bukan hakim yang dapat menentukan hidup atau matinya seseorang yang telah melakukan kejahatan. Itu tergantung kepadamu sendiri. Mau hidup atau mati” (hal. 95). Dialog yang sarat dengan bobot tanggung jawab.
Dan jago silat ini sendiri, biasanya rendah hati. Yang biasa-biasa. Seperti diucapkan Mandala, dalam Iblis Marakahyangan karya Man : “Kita hanya manusia-manusia biasa yang selalu berada di antara kebenaran dan kesalahan. Kebenaran merupakan sebuah tebing dan kesalahan merupakan sebuah jurangnya. Maka kesalahan atau kehilafan ( ejaan sesuai aslinya, seperti juga penggunaan angka-angka untuk pengulangan ) lebih mudah menyeret kita. Dan apa yang kami lakukan itu sebenarnya hanya tugas dan kewajiban manusia. Saudara-saudara pendekar tak usah merasa perbuatan kami ini sebagai budi yang berlebihan (hal 767).
Bisa jadi kehadiran komikus kita seperti itu. Mereka adalah pendekar yang menggambar kue buat kita yang lapar. Kue itu adalah jago silat yang budiman. Lapar itu adalah keinginan kita tak terpenuhi dalam hidup sehari-hari.
Mungkin dengan begitu lapar kita berkurang. Setidaknya karena terhibur. Mungkin dengan begitu malah tambah lapar. Akan tetapi setidaknya kita harus bersyukur. Bahwa hal semacam itu ada. Dari pada tidak ada sama sekali.
Kita — komikus dan masyarakat pendukungnya — sama-sama mendapatkan manfaat. Sama-sama mengeduk lumpur ( sekaligus bisa ) membawa air.
***
*) Naskah untuk Ceramah Sastra, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16 November 1981.
